Keistimewaan Umat Nabi Muhammad
Sahabat SantriLampung rohimakumullah; Ditakdir menjadi Ummat Nabi Muhammad merupakan suatu nikmat yang luar biasa, banyak sekali keistimewaan yang di terima oleh Ummat nabi muhammad yang keistimewaan tersebut tidak diberikan pada ummat nabi dan Rasul sebelumnya. Sahabat berikut 10 Keistimewaan dari Umat Nabi Muhammad ï·º yang telah kami rangkum. Allohumma sholli ala Muhammad!
1. Umat Terbaik
Umat Nabi Muhammad ï·º adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Hal itu tercantum dalam firman Allah ï·» yaitu surah Ali Imran ayat 110:
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, tetapi kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.”
Dalam tafsir ayat tersebut, dijelaskan bahwa umat yang paling baik di dunia adalah yang mengajak kebaikan serta mencegah kemungkaran dan beriman kepada Allah.
Semua sifat itu termasuk dalam ciri-ciri umat Nabi Muhammad ï·º yang dijelaskan dalam surah Al-Fath ayat 29.
2. Umat yang Pertama Masuk Surga
“Kita (Nabi Muhammad ï·º dan umatnya) adalah umat yang terakhir, dan yang paling pertama pada hari kiamat, kami adalah orang yang pertama masuk surga.”
3. Umat yang Tak Sepakat dalam Kesesatan
Dari Ibnu Umar RA, Nabi Muhammad ï·º bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku atas kesesatan.” (HR. At-Tirmidzi)
4. Mendapat Pahala Dua Kali Lipat
Salah satu ciri umat Nabi Muhammad ï·º adalah beriman kepada Allah ï·», yang termasuk meyakini Al-Qur’an dan nabinya. Dalam surah Al-Qasas ayat 54, Allah ï·» berfirman:
“Mereka itu diberi pahala dua kali (karena beriman kepada Taurat dan Al-Qur’an) disebabkan kesabaran mereka dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepada mereka.”
5. Mendapat Syafaat dari Nabi Muhammad ï·º
Keistimewaan umat Nabi Muhammad ï·º lainnya adalah mendapat syafaat dari Rasulullah. Hal ini sesuai dengan hadis riwayat At-Tirmidzi berikut:
“Aku diberi pilihan antara syafaat dengan masuknya separuh umatku ke surga. Namun, aku memilih syafaat. Sebab, syafaat lebih menyeluruh dan lebih banyak. Mungkin saja kalian mengira sayafaatku hanya untuk orang-orang bertakwa? Tidak. Tetapi juga untuk orang-orang yang berdosa.”
6. Memberi Syafaat kepada Orang Lain
Umat Nabi Muhammad ï·º juga bisa memberikan syafaat untuk orang lain, sebagaimana hadis berikut ini:
"Wahai Rabb kami, mereka selalu berpuasa bersama kami, sholat bersama kami, dan berhaji bersama kami." Maka dikatakan kepada mereka: "Keluarkanlah orang-orang yang kalian ketahui." Maka bentuk-bentuk mereka hitam kelam karena terpanggang api neraka, kemudian mereka mengeluarkan begitu banyak orang yang telah dimakan neraka sampai pada pertengahan betisnya dan sampai kedua lututnya. Kemudian mereka berkata: "Wahai Rabb kami tidak tersisa lagi seseorang pun yang telah engkau perintahkan kepada kami." (HR Muslim).
7. Masuk Surga dengan Wajah Bersinar
Dalam hadis riwayat Al-Bukhari, Nabi Muhammad ï·º bersabda: “Sesungguhnya umatku akan dihadirkan pada hari Kiamat dengan wajah berseri-seri karena bekas air wudu.” (HR. Al-Bukhari).
8. Tidak Mendapat Siksa pada Hari Kiamat
Menurut hadis yang diriwayatkan Abu Dawud dan Al-Hakim, umat Nabi Muhammad ï·º tidak merasakan siksa pada hari kiamat.
“Umatku ini umat yang disayangi, ia tidak disiksa pada hari kiamat. Siksaannya ada di dunia berupa fitnah, gempa, dan pembunuhan.”
9. Dimaafkan Allah ï·» saat Lupa
Allah ï·» memaafkan umat Nabi Muhammad ï·º yang melakukan sesuatu keburukan karena tidak sengaja, lupa, dan dipaksa.
“Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah memaafkan umatku ketika ia tidak sengaja, lupa, dan dipaksa’.” (Hadis Hasan, HR. Ibnu Majah, Al-Baihaqi, dan selainnya).
10. Diutus sebagai Pembaharu
Dalam suatu hadis, Nabi Muhammad ï·º bersabda:
“Sesungguhnya Allah mengutus untuk umat ini setiap 100 tahun, seseorang yang memperbarui agama mereka.” (HR. Abu Daud).
Memperbarui dalam hal ini bukan mengubah atau menambahkan, tetapi mengembalikan pemahaman agama sesuai Al-Qur’an dan sunah.
Mau donasi lewat mana?
REK (7310986188)

Gabung dalam percakapan