Kisah Teladan
KISAH KISAH TELADAN
Kisah Teladan
Semangat pagi! Kami akan Menyajikan Kisah kisah singkat terkait prilaku terpuji Nabi ï·º dan para sahabatnya
yang dapat ditiru dan di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ini baru sebagian, kami akan berusaha menambahkan kisah kisah teladan pilihan secara berkala... jangan lupa untuk rindu kembali ke halaman ini.
Disiapkan
Sedang dalam
Pengetikan Tim SantriLampung
Tentang Website
isi
lanjutan
Fitur Utama
isi
lanjutan
Informasi
Isi
lanjutan
Kesederhanaan Nabi
Beberapa tahun lamanya Anas bin Malik menjadi pembantu Rasulullah ï·º oleh karena itu tidaklah heran bila
ia mengetahui cara hidup Rasulullah yang amat sederhana. Misalnya bila berbuka puasa Rasulullah seringkali hanya minum susu karena memang tidak mempunyai makanan lain. Berkata Anas bin Malik, "Suatu hari aku mempersiapkan minunan untuk buka beliau, tetapi beliau terlambat datang. Karena aku menduga tentunya beliau memenuhi undangan berbuka dari sahabatnya, maka minuman itu aku minum. Setelah larut larut agak malam beliau baru datang. Dari salah seorang yang bersama beliau akhirnya aku tahu bahwa dugaanku itu ternyata keliru. Rasulullah ternyata belum berbuka. Anda bisa banyangkan betapa takut dan malu rasanya hatiku bila Rasulullah menanyakan minumannya. Tetapi apa yang terjadi?, Mengetahui minumannya telah habis, Rasulullah menahan lapar dan dahaganya tanpa menanyakan minumannya kepadaku sampai terbit fajar!."
Penghilang Lelah
Suatu ketika Imam Ali bin Abi Thalib merasa iba melihat keadaan istrinya Fatimah yang menumbuk gandum sampai tangannya lecet, menyapu dan menyalakan api di bawah periuk sehingga pakaiannya terlihat sangat lusuh. "Kulihat engkau begitu kecapaian. Bagaimana jika engkau minta pembantu kepada ayahmu untuk meringankan pekerjaanmu?" Maka
berangkatlah Fatimah menghadap ayahnya, Rasulullah ï·º Didapatinya ayahnya itu sedang berkumpul dengan orang banyak. Fatimah merasa malu menyampaikan kepentingannya kepada beliau, karenanya ia kembali pulang. Sermentara itu Rasulullah melihatnya. Keesokan harinya beliau datang ke rumah putrinya itu dan menanyakan maksud kunjungannya kermarin. Imam Ali yang saat itu berada di situ berkata, "Aku yang akan menyampaikannya ya Rasululah. Ia menimba air dan menumbuk gandum sampai tangannya lecet, menyapu rumah dan memasak sampai lusuh bajunya. Aku suruh ia minta pembantu kepadamu ya Rasulullah, untuk meringankan tugas-tugasnya." Mendengar ini lalu Rasulullah berkata, "Maukah kalian aku beritahu tentang sesuatu yang lebih baik daripada pembantu?" "Mau, wahai Rasulullah," jawab mereka berdua. osulullah ï·º yang tidak menghendaki keluarganya hidup dengan situasi yang berbeda dengan masyarakat pada waktu itu lalu berkata dengan penuh kasih sayang, "Apabila kalian hendak tidur, bertasbihlah 33 kali, bertahmidlah 33 kali dan bertakbirlah 34 kali." AKU rela dengan apa yang diridlai Allah dan rasul-Nya!," kata Fatimah spontan.
Dicintai & Dekat Nabi
Abdullah bin Amir menceritakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ï·º bersabda : "Apakah saudara-saudara sekalian suka aku ceitakan siapa di antaramu yang sangat aku cintai dan nanti di hari kÃamat duduk terdekat dengan aku ?" Tiga kali pertanyaan itu diulangnya. Tatkala yang hadir serempak menjawab, "ingin," maka Rosulullah bersabda,
"Orang-orang yang baik tingkah lakunya." (Riwayat Ahmad). Selanjutnya dia pernah memperingatkan sebagaà berikut: Tidak ada sesuatu pun amal kebajikan orang mukmin yang lebih berat timbangannya di hari kiamat selain dari tingkah laku yang terpuji. Allah sangat membenci orang-orang yang berbuat keji dan kotor lidah terhadap sesamanya. Orang-orang yang berkelakuan baik akan mencapai tingkat yang sama denga orang yang berpuasa dan bershalat." (Riwoya Tarmidzi).
Menjaga Kehormatan
Fatimah Az-Zahra binti Muhammad Rasulullah, merupakan wanita pemimpin Syurga. Wafat di usia yang sangat muda, Beliau terkenal sangat menjaga kehormatannya. Singkat cerita menjelang ajalnya, ia berwasiat kepada suami tercintanya yakni Ali bin Abi Thalib;
"Wahai anak pamanku, aku telah memberi tahu diriku sendiri, dan aku tidak melihat kondisiku sekarang ini kecuali aku pasti akan menyusul ayahku sebantar lagi. Aku akan wasiatkan kepadamu beberapa hal yang selama ini tersimpan dalam hatiku." Tiga hal yang diwasiatkan Fatimah Az Zahra menjelang kematiannya yakni, pertama, ia ingin suaminya kelak menikah dengan Umamah binti Abul Ash ibn Rabi' yang merupakan putri kakaknya, Zainab. Kedua, saat meninggal, ia ingin ditutup dengan keranda karena ia merasa malu jika tubuhnya dilihat oleh orang lain. Ketiga, ia meminta dimakamkan di malam hari di Baqi' dengan alasan yang sama, yakni menjaga kehormatan Wanita. Hingga hari ini makam Sayidah Fatimah Az-Zahra tidak diketahui tempat persisnya karena di jaga oleh Pencipta Syurga.
Bersabarlah Bu
Suatu kali ketika Nabi sedang berjalan, beliau melintas di depan rumah seorang wanita. Setelah dekat, tahulah Nabi bahwa wanita itu ternyata seorang ibu yang tengah menangis meratapi kematian anaknya. Si ibu menangis meraung-raung sehingga suara tangisnya terdengar ke mana-mana. Pada saat berhadapan dengan ibu itulah Nabi kemudian berkata,
"Bersabarlah wahai ibu!" Mendengar suara yang ditujukan kepadanya, ibu itu dengan spontan menoleh kepada Nabi seraya berkata dengan nada ketus dan masih sambil menangis, Engkau tentu saja bisa berkata begitu kepadaku, sebab yang mati bukan anakmu!" Mendengar jawaban ibu tersebut Nabi tidak marah, beliau kemudian melanjutkan perjalanannya. Selang beberapa waktu, seseorang yang rupanya sedari tadi mengamati dialog ibu tersebut dengan Nabi, datang menghampiri si ibu. la bertanya, "Apakah yang dikatakan orang itu kepadamu? Ibu itu menjawab, "Ia seenaknya menyuruhku bersabar" "Lalu apa yang engkau katakan kepadanya?" "Aku katakan, bahwa dia bisa berkata begitu karena yang mati bukan anaknya." "Mengapa engkau berkata begitu kepada Nabi?" "Astaghfirullah ... aku telah khilaf kata ibu itu terhenyak. Ibu itu seketika menjadi menyesal telah memberikan jawaban yang tidak pantas. Setelah tenang kembali, ia pun segera mencari dan menghadap Nabi. Kepada Nabi ia berkata, "Maafkan saya wahai Rasulullah, karena saya telah berlaku tidak sopan kepada Anda. Tapi sungguh, saya tadi benar-benar dalam keadaan terpukul karena kematian anak saya. Kini saya telah menjadi tenang, dan saya akan bersabar." Nabi pun kemudian berkata, Ketahuilah wahai ibu, bahwa inti kesabaran adalah pada pukulan pertama." | Maksudnya, seseorang itu dituntut untuk bersabar justru pada saat ia pertama kali mendapat musibah, bukan setelah hatinya menjadi tenang dan pikirannya menjadi terang |
Perang paling Besar
Sewaktu kembali dari dataran gunung badar, sesudah memenangkan perang pertama melawan musuh-musuh Kebenaran, Nabi Muhammad ï·º bersabda; "Kalian telah kembali dari perang kecil ke perang yang lebih besar. Para sahabat nabi terkejut,
Mereka merasa inilah perang yang besar dimana jumlah pasukan lawan 3 kali lipat dari jumlah pasukan muslimin. Mereka lalu bertanya; Apakah perang yang lebih besar itu?; Nabi ï·º pun menjawab; Memerangi Nafsu Jahatmu!".
Pergantian Khalifah
Setelah Umar bin Khatab terbunuh, maka kaum Muslimin pada
waktu itu berbeda pendapat mengenai siapa yang menjadi
penggantinya sebagai khalifah. Ada yang menghendaki Ali
ada pula yang condong kepada Utsman bin Afan
Sejarah mencatat, akhirnya Utsman lah yang terpilih sebagai
khalifah ketiga. Adapun Ali dengan berjiwa besar menerima
keputusan itu. Ia berkata, "Telah kalian ketahui bahwa Ali
adalah yang paling berhak dari siapa pun. untuk menjadi khalifah
Tetapi. Demi Allah, akan kudiamkan itu selama keselamatan
kaum Muslim tetap terjamin dan kezaliman hanya menimpa
diriku sendiri. Semata-mata demi mencari pahala-Nya dan keutamaan disisi-Nya, serta kezuhudan terhadap kemewahan dan
kekayaan yang kalian perebutkan."
Kebangkrutan
Suatu ketika Rasulullah ï·º bertanya kepada sahabat
sahabatnya, "Tahukah kalian siapa yang bangkrut itu?" Lalu
para sahabat berkata, "Bagi kami yang bangkrut itu ialah orang
yang kehilangan hartanya dan seluruh miliknya."
"Tidak," kata Rasulullah. "Yang bangkrut itu ialah orang yang datang pada hari Kiarmat dengan membawa pahala dari puasanya,
pahala zakatnya dan hajinya, tetapi ketika pahala-pahala itu
ditimbang datanglah orang-orang mengadu, Ya Allah dahulu
orang itu pernah menuduhku berbuat sesuatu padahal aku tidak
pernah melakukannya. Kemudian Allah menyuruh orang yang
diadukan itu untuk membayar orang itu dengan sebagian pahalanya dan menyerahkannya kepada orang yang mengadu
tersebut. Kemudian datang orang yang lain lagi dan mengadu,
Allah, hakku pernah diambil dengan sewenang-wenang. Lalu
Allah menyuruh lagi membayar dengan amal salehnya kepada
yang mengadu itu. Setelah itu datang lagi orang yang
mengadu; sampai seluruh pahala shalat, haji dan puasanya itu
habis dipakai untuK membayar orang yang pernah haknya
dirampas, yang pernah disakiti hatinya, yang pernah dituduh
tanpa alasan yang jelas. Semuanya dia bayarkan sampai tidak
tersisa lagi pahala amal salehnya. Tetapi orang yang mengadu
ternyata masih datang juga.
Maka Allah memutuskan agar
kejahatan orang yang mengadu dipindahkan kepada orang itu."
Kata Rasulullah selanjutnya, "Itulah orang yang bangkrut di hari
Kiamat. yaitu orang yang rajin beribadah tetapi dia tidak memiliki
ahlak yang baik. Dia merampas hak orang lain dan menyakiti hati
mereka."
Dunia sebentar Bahaya Besar
Suatu kali, Imam Ali bin Abi thalib terlihat sedang duduk di depan rumahnya sambil menangis. Para sahabatnya yang kebetulan lewat, berhenti karena terkejut menyaksikan keadaan Imam Ali sedemikian itu, dan mereka pun menanyakan sebab musababnya. Mereka berkata,
"Kenapakah gerangan engkau ini hai Ali, menangis sedemikian ruma?"; "Sudah 3 hari ini rmahku tidak kedatangan tamu, aku takut Allah menjadi murka kepadaku," Jawab Imam Ali tersedu. Dalam riwayat yang lain dikatakan; orang ditengah malam seringkali melihat Imam Ali berdiri sendiri dipelataran rumahnya. Terdengar ia bergumam kepada dirinya sendiri, "Wahai dunia, pergilah dariku. Rayulah orang lain selain aku. Sungguh betapa pendek umurmu dan betapa besarnya bahayamu..."
Refrensi
Kisah kisah di atas di ambil dari beberapa refrensi diantaranya ; 1. Muhammad Rosulullah juga Manusia biasa (Kholid Muhammad Kholid). 2. Kisah-kisah Islami (Abdul Kadir Mahdamy). 3. Teladan suci Keluarga Nabi (Muhammad Ali Shabban). 4. Air mata suci Nabi (Ahmad Hadi). 5. Kehidupan Sahabat Rasulullah (Muhammad Yusuf Al Khandalawi).
6. Mencari Keridhoan Allah (H Zainudin Sulaiman). 7. Memilih Takdir Allah (Syeikh Ja'far Subhani). 8. Keadilah Ilahi (Murtadha Muhtar). 9. Lima puluh kisah nyata (Ahmad Najieh). 10. Islam Aktual (Jalaludin Rahmat). 11. Renungan Tarikh (KHE Abdurrahman). 12. Akibat Dosa (Bahrudin Fanani).
Mau donasi lewat mana?
BSI a.n. Kholil Khoirul Muluk
REK (7310986188)
REK (7310986188)
Bantu SantriLampung berkembang. Ayo dukung dengan donasi. Klik tombol merah.

Gabung dalam percakapan