Tawakal perlu Persiapan Mental
Sahabat SantriLampung yang bertaqwa; Sebagaimana telah kita ketahui, berserah diri adalah salah satu perintah Allah yang harus dilaksanakan oleh setiap orang yang mengaku Muslim. Perintah Allah yang kelihatannya sepele ini kenyataannya tidak mudah untuk dilaksanakan. Hal ini disebabkan karena orang seringkali tidak menyadari bahwa berserah diri itu membutuhkan kesiapan mental yang memadai Dan penyiapan / pembentukan mental itu tidak mungkin berlangsung secara instant, tetapi harus melalui tahapan proses yang cukup panjang.
Dengan demikian, jelaslah, orang yang tidak pernah melakukan proses persiapan-persiapan ke arah itu mustahil dapat melakukan berserah diri dengan baik. Inilah proses persiapan (minimal) yang harus dilakukan untuk menumbuhkan mental berserah diri :
- Sering-sering mengulangi doa Rasulullah saw. berikut, "ya Allah, perbaikilah semua urusanku, janganlah Engkau serahkan urusanku ini kepada diriku sendiri, walaupun hanya sekejap."
- Dalam berdoa jangan sekali-kali "mendikte" Allah dan memohon sesuatu yang belum tentu manfaatnya (seperti misalnya minta menjadi kaya, menjadi orang berpangkat / terhormat, dan lain sebagainya). Lihat surat Hud (11):46
- Dalam menghadapi musibah biasakanlah untuk selalu berpikir positif dalam kerangka dibawah ini :
- Allah Maha Penyayang, karena itu tidaklah mungkin la menganiayai hamba-Nya. Adapun sakit dan pedih itu adalah semata-mata tangga untuk menuju bahagia. [ Bila tidak ada kesengsaraan apakah mungkin ada kebahagiaan? Bukankah banyak penyakit yang sembuh dengan memakan obat yang pahit? Bukankah untuk menjadi gelang yang indah, emas itu harus dilebur dulu? ]
Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikit pun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri. Yunus (10):44
- Musibah adalah tanda cinta Allah, "penghapus dosa", warning (peringatan) agar kita segera melakukan introspeksi aturan-main-Nya yang mana yang telah kita langgar. Janganlah terlalu mengharapkan yang manis saja dalam hidup ini, karena seringkali yang manis itu malahan membuat kita menjadi sakit perut. Dan jangan pula takut menghadapi yang pahit, karena seringkali dalam yang pahit itu terkandung obat yang mujarab.
- Bila kita tertimpa musibah kemudian tidak ikhlas menerimanya, maka berarti kita telah rugi 2 kali, yaitu pertama, musibah tersebut tetap menimpa kita, dan kedua, kita berdosa karena "menolak" ketetapan-Nya.
Katakanlah : "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal." At-Taubah (9):51
Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. At-Taghaabun (64):1 1
Katakanlah: "Siapakah yang dapat melin- dungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghen- daki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?" Al-Ahzab (33):17
Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan. Nuh (71):4
Siapa saja yang tidak rela terhadap ketetapan-Ku dan tidak berlaku sabar terhadap cobaan-Ku, dan tidak bersyukur terhadap nikmat-nikmat-Ku, maka carilah olehmu Tuhan selain Aku! Hadits Qudsi.
- Ketidak-kekalan adalah salah satu sunnatullah, di dunia Tidak ada orang yang selamanya sehat, begitu juga tidak ada orang yang susah terus menerus. Hari-hari itu Kami jadikan silih berganti antar manusia - Ali-Imran: 140. Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang dapat menang 'melawan' Sunnatullah, ia pasti akan hancur.
- Allah tidak akan membebani seseorang melebihi kemampuannya. Hal Ini berarti, bila kita merasa tidak kuat menerima musibah-Nya, maka secara tidak langsung kita telah menuduh Allah itu sebagai pembohong! *)
Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya Al-A'raaf (7):42
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Al-Baqarah (2):286
Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Al-Mu'minuun (23):62
Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. ATh-Thalaaq (65):7
*) Musibah yang diberikan Allah itu selalu sesuai dengan kadar kemampuan si penerimanya; artinya si penerima musibah itu pasti mampu mengatasinya bila ia mengikuti perintah-perintah-Nya. Tetapi bila ia tidak mau menuruti perintah Allah, boleh jadi ia akan hancur. Hal ini ibarat seorang pasien yang menderita dengan penyakitnya karena ia tidak mau mengikuti nasihat dokternya. Atau ilustrasi lainnya : bila seorang siswa SD tidak lulus pada ujian akhirnya, tentunya hal ini bukanlah berarti soal ujian itu di luar kemampuannya, tetapi pasti karena ia kurang rajin dalam belajar. Kecuali bila tidak lulusnya siswa SD itu karena soal yang diberikan padanya adalah soal ujian untuk murid SMA, barulah dikatakan ujian itu di luar kemampuannya. Dan guru yang berbuat seperti itu, jelas bukan guru yang bijaksana! Sedangkan Allah mustahil berbuat seperti yang dilakukan oleh guru itu, karena Ia adalah Maha Bijaksana. Kenapa orang menjadi sedih atau bersusah hati? Boleh jadi karena dia tidak tahu rahasia alam dunia ini. Bila dia tahu bahwa dunia ini adalah kandangnya tipuan, hari ini dibuatnya kita tertawa dan hari lain dibuatnya kita menangis, niscaya orang tidak akan terjebak dengan hitungan banyak atau sedikit, manis atau pun pahit!
Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau ... Muhammad (47):36
Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian dia menjadi hancur. .... Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. Hadiid (57):20
Allah mempunyai rencana jangka panjang yang lebih baik. "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui". Al Baqarah (2):216
Jalaluddin Rumi ; "Bila awan tidak menangis, mana mungkin taman akan tersenyum".
Mau donasi lewat mana?
REK (7310986188)

Gabung dalam percakapan