0

Gudang Obat

Al-Qur'an dan hadits Rasulullah adalah suatu kitab pedoman hidup (maual book) agar manusia dapat mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak. Bila penghalang kebahagiaan yang di idam-idamkan oleh segenap manusia di dunia ini diibaratkan sebagai penyakit, maka Al-Quran dan hadits Rasulullah itu adalah gudang obat yang berisi segala jenis penawar untuk segala jenis penyakit. Tidak ada penyakit hati yang tidak dapat ditawarkan oleh Al-Qur'an. 

"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman" Thaahaa (20):131 

Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagl orang orang yang beriman dan Al-Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. Al-lsraa' (17):82 

Apakah (patut Al-Qur'an) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah : "Al-Qur'an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman, pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al-Qur'an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh." Fushshilat (41):44 

Suatu gudang obat tentunya hanya akan bermanfaat bila pemiliknya memiliki pengetahuan yang cukup mengenai ilmu  pengobatan, yaitu : 

  1. Mampu memilih obat yang tepat untuk setiap jenis penyakit, jangan sampai terjadi obat merah digunakan untui obati orang yang menderita sakit kepala! 
  2. Mengetahui aturan pakai obat yang digunakan, jangan sampai terjadi obat merah diminum seperti meminum obat batuk! 

Jelaslah, pemilihan obat yang keliru, ataupun aturan pakai yang salah, tidak akan menyembuhkan penyakit; bahkan sebalikya, akan memperparah keadaan si penderita! Bila kita amati, keguncangan jiwa yang dialami oleh seseorang seringkali disebabkan karena ia tidak dapat mernanfaatkan 'gudang obat yang dimilikinya secara optimal; yaitu ia salah dalam memilih obat, atau keliru menerapkan aturan pakainya Berikut disampaikan beberapa contoh kasus yang menggamarkan hal itu. 

Contoh pertama: Kita sering mendengar perkataan bijak, "Buanglah segala yang buruk-buruk dan ambilah yang baik-baik." Nasihat bijak ini tentunya menjadi tidak benar bila diterapkan di mesjid; yaitu dalam konteks datang memakai sandal butut, pulang menggunakan sepatu mengkilat. 

Contoh kedua: Ada seorang fakir miskin mengetuk pintu rumah seorang yang kaya raya untuk meminta sedekah. Ia menyodorkan tangannya sambil membacakan ayat Al-Qur'an dengan keras: 

Pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin ... Adz-Dzaariyaat (51):19 

Rupanya si orang kaya ini pun tidak mau kalah pintar. Ia menolak memberi sedekah sambil membacakan pula ayat Al-Qur'an: 

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Ar-Ra'du (13):11.

Walaupun keduanya berdalil menggunakan ayat Al-Qur'an, yang jelas kedua orang itu sama-sama mendapat kerugian. Si miskin rugi karena tidak mnendapat sedekah, sementara si kaya pun rugi karena tidak mendapatkan pahala. Seharusnya si miskin menggunakan ayat yang dipakai oleh si kaya; sedangkan si kaya menggunakan ayat yang dibacakan oleh si miskin. 

Contoh ketiga: Ada seorang mubaligh yang setiap akan berdakwah memegang erat-erat ayat Al-Qur'an berikut : 

"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk". Al-Qashash (28):56 

Dapat dibayangkan, mubaligh ini tentunya akan 'asbun' (asal bunyi); toh pikirnya berpayah-payah menyusun materi dakwah dengan baik juga percuma, karena bila Allah tidak menghendaki orang itu mengerti, pasti ia tidak akan dapat mengerti. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan ayat di atas, tetapi sang mubaligh salah dalam aturan pakainya. Seharusnya ayat itu digunakan pada akhir kegiatan dakwahnya. Sedangkan pada awal berdakwah, ia seharusnya menggunakan hadits Rasulullah berikut: 

"Satu orang yang mendapatkan petunjuk (hidayah) Allah di tanganmu, adalah lebih baik bagimu dari apa yang diterbitkan oleh matahari." 

Contoh keempat: Ada seorang ayah yang mempunyai tanggungan keluarga yang cukup banyak. Namun dalam mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya itu, ia tampak terlalu santai. la tidak mau bersibuk diri sebagaimana yang dilakukan oleh teman-temannya yang lebih kaya. Tindakannya itu ternyata bukannya karena ia malas, tetapi ia berkeyakinan bahwa kemiskinan dirinya itu memang sudah ditetapkan Allah. Ia berpegang teguh pada ayat Al-Qur'an berikut : 

"Tidak ada sesuatu kejadian pun terjadi di bumi dan tidak pula pada diri kamu melainkan telah ada dalam kitab (suratan) sebelum Kami melaksanakannya. Sesungguhnya hal itu bagi Allah adalah perkara mudah. Agar kamu tidak terlalu sedih atas sesuatu yang luput dari kamu, dan tidak perlu terlalu gembira atas sesuatu yang dikaruniakan-Nya kepada kamu, Allah tidak suka kepada setiap orang yang angkuh dan banyak membanggakan diri". Al-Hadiid (57):22, 23 

Di sini nampaknya ada kesalahan dalam aturan pakai ayat. Seharusnya si ayah menggunakan ayat di atas pada akhir suatu usaha, sehingga bila usahanya itu gagal ia tidak akan kecewa dan bila berhasil tidak akan sombong. Sedangkan pada awal berusaha seharusnya ia menggunakan ayat berikut;

"Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingaa mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri". Ar-Ra'du (13):11 

Contoh kelima: Ada sepasang suami istri yang selalu saja bertengkar. Masing-masing merasa benar sendiri, karena mereka berpendapat telah berpegang pada hadits Rasulullah saw. Sang suami memegang hadits, "Seorang istri harus taat pada kehendak suami" Dan istri memegang hadits, "Seorang suami harus membimbin dan mendidik istri." Tidak ada yang salah pada kedua hadits yang dipakai itu. Hanya aturan pakainya saja yang keliru. Namun akibat salah aturan pakai ini, si suami selalu marah bila istri tidak patuh padanya dan si istri pun akan membela diri bahwa suamilah yang tidak becus membimbingnya sehingga ia tidak patuh pada suami. Keduanya akhirnya lupa akan kewajibannya masing-masing sebagai suami istri. Masing-masing bertahan dengan haknya. Dalam hal ini, seharusnya suami menggunakan hadits yang dipegang oleh istrinya; dan si istri menggunakan hadits yang dipegang oleh suaminya. Di samping itu pula, suami istri sebaiknya sepakat untuk menggunakan ayat yang sama, yaitu: Janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya Asy-Syu'araa' (26):183 

Contoh keenam: Banyak sekali ibu yang merasa kecewa dengan sikap yang ditunjukkan anaknya. Boleh jadi kekecewaan ini akan semakin berat, bila sang ibu memegang tequh hadits Rasulullah saw. yang mengatakan "Surga itu berada di bawah telapak kaki ibu". Hadits tersebut sebenarnya kurang sesuai untuk konsumsi seorang ibu, tetapi lebih tepat bila menjadi pegangan seorang anak. Sedangkan untuk lbu, yang menjadi pegangan sebaiknya  adalah hadits Rasulullah saw. berikut:  

"Tidak ada bayi dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah (kodrat manusia untuk berserah diri kepada Allah). Orang tuanyalah yang mnenjadikannya seorang yahudi, Nasrani atau pun Majusi" 

Bagaimana cara mengetahui bahwa ayat yang kita gunakan itu sudah tepat? Mudah saja. Bila kita sudah menggunakan suatu obat tetapi keadaan menjadi semakin parah, maka berarti kita telah salah menggunakan obat! 

Bila seauatu tidak diperlakukak sebagaimana maksud tujuam penciptaannya, pasti yang timbul adalah kerugian!

Baca Juga yang ini ya :
Pasang Iklan

Mau donasi lewat mana?

BSI a.n. Kholil Khoirul Muluk
REK (7310986188)
Bantu SantriLampung berkembang. Ayo dukung dengan donasi. Klik tombol merah.
Alumni Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung.

Suratku untuk Tuhan - Wahai Dzat yang kasih sayangnya tiada tanding, rahmatilah tamu-tamuku disini. Sebab ia telah memuliakan risalah agama-Mu. Selengkapnya

Donasi

BANK BSI 7310986188
an.Kholil Khoirul Muluk