Harta simbol Kesuksesan
Orang yang sukses adalah orang yang banyak harta. Persepsi ini sangat tidak islami. Pandangan seperti inilah yang menyebabkan manusia berlomba mati-matian mencari materi. Masalah halal dan haram hanya dibibir saja. Pendapat ini pula yang mengakibatkan seseorang iri hati melihat kemajuan temannya, rendah diri bila berhadapan dengan orang yang lebih kaya atau lebih tinggi pangkatnya serta cenderung untuk menjadi penjilat. Firman Allah berikut ini memang menggambarkan kondisi umum manusia dari dahulu sampai akhir zaman:
"Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat, Dan Allah memberi rezki kepada orang-orana yang dikehendaki-Nya tanpa batas". Al-Baqarah (2):212
Pada hakikatnya, kekayaan itu bukanlah ukuran kehebatan seseorang. Karena semua orang dapat memperolehnya bila diberi kesempatan dan peluang yang sama. Tetapi tidak semua orang mampu bertaqwa meskipun diberi kesempatan yang sama. Hanya yang "hebat" saja yang bisa mengalahkan hawa nafsu ajakan setan untuk membangkang kepada-Nya. Oleh karena itu orang yang sukses dan patut disegani itu adalah orang yang mampu memiliki ketaqwaan yang tinggi. Firman Allah berikut mengisyaratkan hal tersebut.
"... berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. Al-Hijr (15):88
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Al-Bayyinah (98):7
Janganlah kamu bersikap lemah, dan Janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang orang yang beriman. Ali-Imran (3):139
Islam tidak melarang umatnya untuk kaya. Bahkan sebaliknya lslam sangat menganjurkan agar umatnya kaya raya. Yang dilarang oleh Islam adalah jangan sampai kekayaannya itu membelenggu hati atau keimanannya. Kekayaan letaknya harus di tangan, bukan di hati. Fungsi harta semata-mata adalah untuk melancarkan atau mempermudah pengabdian kepada-Nya. Bukan sebaliknya malah mengkandaskan taqwa!
Sa'id bin Mas'ud berkata, "Apabila engkau melihat seorang hamba yang semakin bertambah dunianya (kaya) dan berkurang akhiratnya (amalnya) sedang dia puas dengan hal itu, maka orang itu adalah tertipu dan dịpermainkan, tetapi dia tidak merasa."
Mau donasi lewat mana?
REK (7310986188)

Gabung dalam percakapan