Agama bukan Keharusan

Agama itu bukan suatu keharusan, yang penting kita hidup berbuat baik dan tidak merugikan orang lain. Persepsi ini sangat keliru. 

Orang yang berpersepsi demikian dapat dikatakan hidup hanya berpedoman pada nafsunya sendiri. Apakah itu nafsu jelek atau pun nafsu baiknya. Al Qur'an mengatakan bahwa orang yang seperti itu bertuhan kepada  hawa nafsunya. Seharusnya kita hidup di dunia ini berpedoman pada aturan yang dibuat oleh yang menciptakan kita. Karena tentunya Ia memiliki konsep untuk apa Dia menciptakan keberadaan kita di dunia. Konsep dimaksud tentunya harus ada,  karena bila tidak berarti la menciptakan manusia hanya iseng saja. Jauh benar kiranya Tuhan dari sifat iseng! |Al-Mu'minun:| 13). Bukankah semua produk yang baik itu harus memiliki manual book atau "Standing Operation Procedure (SOP)" dari pembuatnya? Jelas aturan ini tidak mungkin direka-reka sendiri.

Sangatlah logis pendapat yang mengatakan bahwa tidak mingkin orang hidup tanpa aturan. Masalahnya adalah aturan mana yang akan diikuti. Kalau diserahkan pada masing-masing individu untuk membuat aturan sendiri-sendiri tentunya persepsi mengenai suatu kebenaran akan sangat subyektif. Kenapa tidak kita ambil saja salah satu aturan yang dibuat oleh agama (agama langit) yang sudah ada? Bukankah tidak dapat diragukan lagi bahwa yang mampu membuat aturan yang paling pas atau sesuai dengan tabi'at manusia adalah Sang Pencipta manusia itu sendiri?

Manusia yang waras mau tidak mau harus mempunyai suatu referensi yang diyakini paling baik sebagai pedoman hidupnya. yaitu agar ia selamat dan dapat selalu bahagia. Kemampuan akal saja jelas tidak akan cukup. Karena betapa pun tingginya kemampuan indera manusia, seringkali hasil yang diperolehnya tidak menggambarkan hakikat yang sebenarnya. Betapa pun tajamnya mata seseorang ia akan melihat tongkat yang lurus menjadi bengkok di dalam air. Bintang yang sebenarnya lebih besar dari planet bumi, terlihat olehnya hanya bagaikan koin uang logam kecil.  Referensi yang dipilihnya ini, selanjutnya akan menentukan nasib dirinya sekarang maupun kelak di alam yang abadi nanti. Oleh karena itulah penentuan referensi mana yang akan dipilih harus dilakukan dengan ekstra hati-hati, yaitu menggunakan seluruh potensi akal dan pikiran yang dimiliki. 

Bagi yang tidak mau mengikuti suatu agama tetapi percaya akan adanya hidup setelah mati, kenapa tidak berpikiran bahwa mungkin saja petunjuk agama itu di samping untuk kebahagiaan di dunia juga jalan untuk menuju kesenangan hidup setelah kita mati. Bukankah tidak ada agama yang mengajarkan kejahatan? Bukankah dengan demikian pendapat bahwa cara hidup di dunia ini cukuplah asal tidak merugikan orang lain serta selalu berbuat baik kepada sesama, tidak bertentangan dengan ajaran agama manapun? Kenapa kita tidak switch saja persepsi tersebut ke dalam persepsi agama? Bukankah ini jauh lebih safe, artinya seandainya memang benar ternyata keadaan kita setelah mati itu tidak ada kaitannya sedikitpun dengan masalah agama, bukankah kita tidak mengalami kerugian? Tetapi bagaimana bila ternyata ajaran agama itu benar, maka tentu orang yang tidak mengikutinya akan menderita rugi besar di akhirat nanti, rugi yang abadi yang tidak dapat diperbaiki lagi. Sebagaimana firman Allah berikut :

"orang-orang yang kafir (di akhirat nanti) seringkali menginginkan, kiranya mereka (di dunia) menjadi orang-orang Muslim". Al-Hijr (15):2 

Coba kita kesampingkan sejenak nafsu kita, berpikirlah dengan jernih: apakah ada ajaran dari lslam yang tidak bermanfaat untuk mencapai kehidupan yang bahagia di dunia ini. Tuhan tidak memerlukan kita [Fathir:15). Ia tidak peduli kita mau taat kepada-Nya atau membangkang. Dia memberi manusia kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri-sendiri. Tetapi jelas manusia akan menerima konsekuensi atas jalan yang dipilihnya itu. Bukankah ini cukup fair? Lalu mengapa kita tidak berpikir safe? Apakah tidak terlalu gegabah bila kita pertaruhkan hidup di dunia yang tidak sampai sepersepuluk hari menurut ukuran waktu akhirat [As-Sajadah:5] dengan menolak ajaran agama? Apalagi Allah telah mengatakan bahwa Ia tidak menjadikan sedikit kesulitan pun dalam hal beragama [Al-Hajj:78] serta telah memudahkan Al-Qur'an untuk dipelajari dan diamalkan. 

"Dan sesungguhnya telah Kami mudah kan Al-Qur'an untuk dipelajari, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?" Al-Qamar (54):40 

"Kami tidak menurunkan Al-Qur'an ini kepadamu agar kamu menjadi susah". Thaha (20):20 

Islam mengajarkan bahwa amal itu tergantung pada niatnya. Amal yang memperoleh ganjaran adalah amal yang dilakukan dengan ikhlas semata-mata karena memang Sang Maha Pencipta menghendakinya demikian. Bukankah bila kita mengabdi menuruti segala perintah seseorang maka orang itu yang akan memberikan ganjaran pada kita? Itulah sebabnya bila kita beramal karena mentaati nafsu (nafsu yang baik), maka tentunya nafsu itulah yang akan memberikan garnjaran. Pertanyaan selanjutnya, apa yang dapat diberikan oleh nafsu yang ada dalam diri itu? 

".... amal-amal yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu, serta lebih baik untuk menjadi harapan". Al-Kahfi (18):46 

Terakhir, renungkanlah baik-baik firman Allah berikut : 

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). Al-An'aam (6):116.

Barokallohu fiy kum.... Jangan lupa SOP hidupnya ya ... 

Baca Juga yang ini ya :
Pasang Iklan

Mau donasi lewat mana?

BSI a.n. Kholil Khoirul Muluk
REK (7310986188)
Bantu SantriLampung berkembang. Ayo dukung dengan donasi. Klik tombol merah.
Alumni Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung.

Suratku untuk Tuhan - Wahai Dzat yang kasih sayangnya tiada tanding, rahmatilah tamu-tamuku disini. Sebab ia telah memuliakan risalah agama-Mu. Selengkapnya

Donasi

BANK BSI 7310986188
an.Kholil Khoirul Muluk