Cinta Allah terhadap Orang Bertobat
Suatu ketika, sebagaimana dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah pernah berkisah pada para sahabatnya yang mulia. Beliau menyampaikan sebuah kisah tentang seorang yang sedang melakukan perjalanan menyeberangi gurun pasir yang tak terlihat ujungnya, diterpa matahari terik, dan tak ada apa pun selain pasir kekuningan. Seluruh perbekalannya dan perlengkapannya diletakkannya di atas untanya. Ketika malam tiba, gurun itu begitu dingin dengan angin kencang yang menusuk tulang. Ia harus berbaring di dekat untanya ketika tidur, agar tetap hangat dan terlindung dari angin kencang berpasir.
Suatu petang, ia sampai ke sebuah pohon kecil di tengah gurun. Di sana, di bawah pohon, ia jatuh tertidur. Dan ketika terbangun, didapatinya bahwa untanya telah hilang—dengan membawa seluruh air, perbekalan dan perlengkapannya. Ia begitu panik, sehingga berlarian ke sana kemari mencari dan memanggil-manggil untanya itu, hingga ia kehausan. Dan ia tak lagi memiliki air setetes pun.
Kehilangan harapan, ia menjadi putus asa. Akhirnya ia berkata dalam hatinya: “aku kembali saja ke tempatku tadi, dan tidur saja di sana sampai kematian menjemputku.” Ia tak lagi melihat ada harapan hidup di tengah gurun tanpa perbekalan, sendirian. Lalu ia pun kembali tidur, sambil menunggu saat datangnya kematian.
Entah setelah berapa lama ia tertidur, ia kemudian terbangun karena suhu udara yang panas. Ketika ia mengangkat kepalanya, ternyata ia melihat untanya telah kembali sendiri, berdiri di dekatnya, lengkap dengan semua air dan perbekalannya. Ia lalu memegang tali untanya tak percaya: dan kemudian, karena amat sangat gembiranya, dengan kebahagiaan yang meluap-luap ia bersyukur pada Allah berulang-ulang, namun dengan ucapan yang keliru: “Ya Allah, Ya Allah, Ya Allah! Engkau hambaku dan akulah Rabb-Mu, Ya Allah!” Namun, Allah tersenyum menyaksikan itu.
Lalu Rasulullah bertanya pada para sahabatnya, “Menurut kalian, bagaimana perasaan orang itu, ketika melihat kembali untanya itu, lengkap dengan semua perbekalannya?”
Para sahabat menjawab, “tentulah ia amat senang dengan kebahagiaan yang meluap-luap, ya Rasulullah!”
“Nah, ketahuilah,” sambung Rasulullah, “sungguh, Allah lebih senang dan bahagia lagi ketika seorang hamba yang beriman kembali bertaubat kepada-Nya, jauh melebihi bahagianya orang yang menemukan kembali unta dan bekalnya ini.”
note : jangan lupa baca semua tag "taubat" agar sempurna pemahamannya.

Mau donasi lewat mana?
REK (90000-4648-1967)
Gabung dalam percakapan