Sifat Malu Yang Sebenarnya


Apa itu sifat malu? Rasa malu adalah sifat yang membuat seseorang enggan tampil menonjol di masyarakat. Mari kita pahami makna rasa malu menurut Islam.

Dalam sebuah hadis, Nabi S.A.W bersabda yang bermaksud: “Wanita memiliki 99 daya tarik dibanding laki-laki, maka Allah menganugerahkan kepada mereka sifat malu.” (Hadis riwayat Baihaqi)

Salah satu ciri kemuliaan seorang wanita terletak pada sifat malu yang menebal dalam dirinya. Apa itu malu? Bagaimana cara merasa malu? Kapankah waktu untuk merasa malu?

Pengertian malu

Menurut para ulama, seperti Al Junaid, Karena melihat berbagai macam karunia dan melihat keterbatasan diri, maka di antara keduanya muncul suatu kondisi yang disebut malu. Esensinya adalah akhlak yang mendorong seseorang untuk meninggalkan kemungkaran dan mencegah kelalaian dalam memenuhi hak-hak Allah SWT." - dari kitab Madarijus Salikin karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah.

Malu kini menjadi semakin mahal nilainya. Seperti halnya dalam bisnis jual beli, barang yang sangat sulit diperoleh pun semakin mahal. Malu dalam diri seseorang semakin sulit ditemukan. Manusia semakin bebas berbuat apa pun dan menggores definisi malu yang telah disebutkan para ulama di atas, bahkan melanggar Sunnah Nabi (saw) dalam mewujudkan rasa malu.

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam merasa sangat malu, melebihi malunya seorang gadis di balik jilbabnya." (HR. Ahmad)

Nabi bersabda lagi: Dalam Ash-Sahihain dari Abu Hurairah ra, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Iman itu lebih dari 70 cabang, atau lebih dari 60 cabang. Yang paling utama adalah ucapan laa ilaaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan halangan dari jalan, dan malu adalah salah satu cabang iman." (HR. Bukhari dan Muslim)

"Juga dari Imran bin Hushain ra, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Malu itu tidak mendatangkan kecuali kebaikan." (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda: "Sesungguhnya, di antara sabda kenabian yang pertama kali dikenal manusia adalah: Jika kamu tidak malu, maka berbuatlah sesukamu." (HR Bukhari)

Bermula dari tingkatan iman yang paling rendah, yaitu rasa malu, rasa malu senantiasa mendatangkan kebaikan hingga Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang hendaknya menanamkan rasa bersalah dalam diri untuk mempertahankan rasa malu tersebut.

Akibat hilangnya rasa malu ini, kita semakin sering mendengar munculnya berbagai fenomena sosial yang melibatkan perempuan. Aborsi tidak akan terjadi jika perempuan tersebut malu bersama laki-laki yang bukan mahramnya. Melarikan diri dari rumah di kalangan perempuan (mayoritas) tidak mungkin terjadi jika perempuan tersebut malu kepada Allah SWT karena durhaka kepada orang tuanya. Maraknya aurat di kalangan perempuan tidak mungkin terlihat jika perempuan tersebut malu seperti malunya putri Nabi Syuaib untuk pergi menemui Nabi Musa a.s. [Surat Al-Qasas: 22-28] di antaranya adalah kutipan berikut:

“Seorang putri Nabi Syuaib a.s. berjalan menemui Nabi Musa dengan penuh rasa malu” (QS. Al-Qasas: 25)

Analogi yang sering kita dengar, antara buah yang matang, indah, dan berseri dengan buah yang rusak, busuk, dan dimakan ulat, apa penyebabnya? Tentu saja karena buah yang matang, indah, dan berseri berasal dari seorang tuan yang selalu merawatnya, membungkusnya dengan kain, menyiraminya dengan pupuk yang cukup, dan mengusir ulat serta lalat yang ingin mengganggunya, sementara buah yang buruk dibiarkan begitu saja tanpa perlindungan. Demikianlah rasa malu seorang wanita secara tidak langsung akan mengangkat martabatnya.

Rasa malu seorang wanita tidak menghalanginya untuk menuntut ilmu agama dan berdakwah.

Inilah yang disebut rasa malu yang wajar. Rasa malu seorang wanita tidak menghalanginya untuk menjadi ibu bagi umat!

Rasa malu yang menebal di dalam diri tidak lantas membuat seorang perempuan tinggal di rumah tanpa mengetahui dunia luar dan isu-isu terkini, atau lebih buruk lagi, menjadi bodoh hanya karena berdiam diri di rumah.

Buktinya?

Bukti pertama datang dari Ummul Mukiminin pertama, Siti Khadijah r.a. Khadijah adalah seorang saudagar kaya raya. Bagaimana mungkin Saidatina Khadijah menjadi kaya tanpa harus keluar rumah untuk berdagang? Namun diiringi rasa malu yang selalu ia jaga setiap langkahnya.

Bukti kedua adalah Saidatina Aisyah r.a. Ia adalah satu-satunya perempuan yang meriwayatkan hadits terbanyak dari Rasulullah saw. Terkenal karena kecerdasannya, bahkan ¼ syariat Islam pun diturunkan olehnya. Ia menjadi rujukan para sahabat pada masa itu dan hingga kini. Bagaimana mungkin Saidatina Aisyah r.a. menjadi perempuan yang begitu bijaksana tanpa harus keluar rumah untuk menuntut ilmu?

Kita juga melihat ketulusan para perempuan/sahabat di zaman Rasulullah saw. Abu Sa'id al-Khudri berkata:

"Seorang wanita menemui Rasulullah saw. lalu berkata, "Wahai Rasulullah, laki-laki beruntung karena selalu menerima tazkirah darimu. Kami mohon kepadamu untuk menyediakan satu hari bagi kami untuk menyampaikan ilmu yang telah engkau ajarkan." Rasulullah saw menjawab, "Berkumpullah pada hari ini dan itu." Kami berkumpul pada hari yang telah ditentukan oleh Rasulullah saw. Rasulullah saw pun mengajarkan kepada mereka apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw. (HR. Bukhari dan Muslim - shahih)

Dalam Atsar disebutkan:

“Sebaik-baik wanita adalah wanita Ansar, rasa malu yang ada pada mereka tidak menghalangi mereka untuk menuntut ilmu agama.”

Wanita yang disertai rasa malu yang sewajarnya tidak menghalangi mereka untuk menjadi unggul dalam ilmu pengetahuan. Wanita juga memiliki kewajiban yang sama dengan pria untuk berdakwah sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT:

“Dan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menaati Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan dirahmati oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [At-Taubah: 71]

Keberanian Nusaibah (ra) dalam melawan musuh, Rufaidah al-Aslamiyah yang merawat orang-orang yang terluka di medan perang, Asma’ binti Abu Bakar yang mengirimkan makanan kepada Nabi dan ayahnya selama hijrah, Khaulah yang menegur Khalifah Umar di depan umum adalah beberapa contoh sahabat yang pergi berperang di jalan Allah SWT. Bagaimana mungkin kita mendengar semua contoh ini jika mereka tidak menempatkan rasa malu pada tempatnya!

Sebagai penutup, untuk direnungkan bersama:

Firman Allah S.W.T yang artinya, "Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu?" (Az-Zumar: 9)

Baca Juga yang ini ya :
Pasang Iklan

Mau donasi lewat mana?

BSI a.n. Kholil Khoirul Muluk
REK (7310986188)
Bantu SantriLampung berkembang. Ayo dukung dengan donasi. Klik tombol merah.
Alumni Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung.

Suratku untuk Tuhan - Wahai Dzat yang kasih sayangnya tiada tanding, rahmatilah tamu-tamuku disini. Sebab ia telah memuliakan risalah agama-Mu. Selengkapnya

Donasi

BANK BSI 7310986188
an.Kholil Khoirul Muluk