Siti Khadijah teladan seorang ibu Muslim

Seorang istri yang setia dan rela berkorban demi mendukung perjuangan Nabi s.a.w. CIRI-CIRI istri yang saleh dan keibuan Ummul Mukminin Saidatina Khadijah Khuwailid adalah teladan terbaik seorang ibu yang saleh, yang memiliki kualitas-kualitas seperti kecantikan, kekayaan, kebugaran, kecerdasan, kedermawanan, dan keturunan yang mulia.

Selain itu, beliau adalah seorang 'al-wadud al-walud', seorang wanita yang penyayang dan subur. Berkat kebersamaannya dengan Nabi s.a.w., beliau dikaruniai empat putri dan tiga putra. Kualitas-kualitas istri yang saleh dan keibuan yang dapat diteladani dan diambil sebagai pelajaran dari perjalanan hidup Saidatina Khadijah, antara lain:

Menenangkan dan menyejukkan jiwa Nabi s.a.w. ketika beliau sedih dan gelisah. Diriwayatkan bahwa kehebatan Khadijah adalah beliau adalah sosok yang tenang dan berhasil menenangkan Rasulullah SAW setelah menerima wahyu pertama di Gua Hira.

Nabi Muhammad SAW yang sedang ketakutan dan gemetar ditenangkan oleh Khadijah dengan bersabda:

"Demi Allah, Allah tidak akan mengganggumu selamanya. Bergembiralah dan kuatkanlah hatimu. Sesungguhnya engkau adalah orang yang gemar menyambung silaturahmi, gemar menanggung beban orang (yang kurang mampu), menghormati tamu, memberi kepada fakir miskin, berkata jujur, dan menolong orang yang sedang kesusahan.

Kata-kata yang lembut dan manis ini menenangkan hati Baginda. Rasa takut yang terpancar di wajah Rasulullah SAW lenyap dan tergantikan oleh kejernihan dan cahaya.

Setelah peristiwa di Gua Hira yang menandai diangkatnya Nabi Muhammad SAW sebagai Rasulullah, maka tanpa ragu sedikit pun dalam hati Khadijah menerima Islam.

Ummul Mukminin ini merupakan pendukung kuat Nabi Muhammad SAW dalam menggerakkan dakwah. Beliau adalah pembela yang paling setia dan rela mengorbankan seluruh jiwa, raga, harta, dan perasaannya demi keberhasilan perjuangan Nabi Muhammad SAW. Wanita yang diberi gelar Ummul Mukminin (Ibunya Orang-orang Beriman) ini merupakan sosok yang agung hingga layak dijadikan Ummul Mithali bagi setiap individu Muslim.

Mendukung perjuangan suaminya, Nabi Muhammad SAW, dengan semangat dan jiwa seorang pejuang, yang berpusat pada kekuatan iman. Meskipun secara fisik, Saidatina Khadijah tidak mengalami pelecehan dan ancaman dari kaum musyrik, namun sebagai seorang wanita, beliau juga merasakan penderitaan dan kesedihan jika suaminya mendapat tentangan keras dalam menyebarkan dakwah Islam.

Menghadapi masa-masa suka dan duka bersama Nabi Muhammad SAW. Hal ini dapat disaksikan pada peristiwa pengasingan yang dilakukan oleh kaum musyrik kafir terhadap Bani Hasyim dan Bani Muthalib selama tiga tahun. Ia rela meninggalkan segala kemewahan demi keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ia menabur sejuta pahala untuk memberikan perlindungan dan pembelaan kepada suaminya dalam menjalankan tugas kerasulan. Ia merasakan pahitnya hidup sebagai pejuang Allah. Berbagai ancaman dan tantangan pun dihadapinya karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Kebajikannya dikenang oleh Nabi Muhammad SAW setelah beliau pergi untuk diajak bertemu Allah SWT. Diriwayatkan bahwa suatu hari Khaulah Binti Hakim bertanya kepada beliau:

"Ya Rasulullah, apakah engkau kesepian berpisah dengan Khadijah?" Nabi Muhammad SAW menjawab dengan bersabda:

"Ya! Demi Allah, Khadijah adalah seorang pengurus dan ibu rumah tangga yang baik."

Setelah itu, beliau menikahi Saudah Binti Zum'ah dan Saidatina Aisyah. Kenangannya tentang Saidatina Khadijah pun begitu mendalam hingga Saidatina Aisyah merasa cemburu kepada Khadijah. Dalam sebuah riwayat diriwayatkan bahwa suatu hari, Halah binti Khuwailid, saudari Khadijah, datang kepada beliau dengan penuh sopan santun, sebagaimana Khadijah meminta izin untuk bertemu Rasulullah (saw). Nabi pun senang melihat perilaku Halah dan berkata: "Ya Allah, Halah binti Khuwailid."

Mendengar ucapan ini, Aisyah menjadi cemburu dan berkata: "Mengapa engkau masih mengingat wanita tua bermulut merah dari Quraisy yang telah tiada itu? Bukankah Allah telah memberimu pengganti, seorang istri yang lebih baik darinya?" Kemudian Nabi menjawab:

"Tidak! Dia beriman ketika orang lain mengingkariku. Dia beriman kepadaku ketika orang lain berdusta kepadaku. Dia membantuku dengan hartanya, ketika orang lain tidak memberiku apa pun. Allah telah menganugerahkan kepadaku seorang anak darinya, bukan dari istri yang lain."

Kedudukan Khadijah di mata Allah dan Rasul-Nya sangat dihormati. Diriwayatkan bahwa Allah menyampaikan salam-Nya kepada Khadijah semasa hidupnya melalui Jibril, yang kemudian menyampaikannya kepada Nabi (saw).

Ia menyampaikan salam: "Wahai Khadijah, sesungguhnya Jibril telah menyampaikan salam kepadamu dari Allah, Tuhan semesta alam."

Khadijah menjawab salam tersebut dengan mengatakan: "Allah adalah Juru Selamat, dari-Nya keselamatan dan kepada-Nya keselamatan. Semoga keselamatan dilimpahkan kepada Malaikat Jibril."

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa kedudukan Khadijah di mata Nabi Muhammad SAW sangatlah tinggi. Diriwayatkan bahwa suatu hari Nabi Muhammad SAW menggambar sebuah garis di tanah, dan beliau bertanya kepada para sahabat: "Apakah kalian semua tahu tentang ini?" Para sahabat menjawab: "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu."

Ia juga bersabda:

"Wanita-wanita terbaik di dunia ini ada empat, yaitu Maryam binti Imran, Asiyah putri Muzahim (istri Firaun), Khadijah binti Khuwailid, dan Fatimah binti Muhammad."

Di balik kisah Khadijah ini, terdapat banyak hikmah dan hikmah yang ingin beliau soroti. Salah satunya adalah tentang zakat.

Zakat hanya diwajibkan bagi mereka yang memiliki kelebihan harta yang telah memenuhi syarat dan ketentuan yang telah ditetapkan. Artinya, jika seseorang ingin berzakat, maka ia harus berusaha. Dan dari apa yang Allah berikan sebagai hasil usahanya, itulah yang wajib ia bayarkan zakatnya. Dan bagi istri yang tidak bekerja, ia dapat membayar zakat jika mendapatkan tunjangan khusus dari suaminya…

Dengan demikian, bekerja… termasuk ibadah yang juga bernilai pahala di sisi Allah. Islam tidak menghalangi perempuan untuk produktif mencari keberkahan Allah di dunia dengan bekerja, bahkan Islam menganjurkan agar perempuan saling bersaing dan berkontribusi dalam produktivitas dengan laki-laki.

Dan Allah memberi perempuan pilihan, apakah mereka ingin memilih menjadi pekerja, wanita karier, wirausahawan, atau ibu rumah tangga. Semua itu sama baiknya.

Asalkan ia menjaga kehormatan, harga diri, dan menaati aturan yang ditetapkan Allah. Apa pun pilihannya, insya Allah, akan bernilai pahala.

Dalam kisah Siti Khadijah, Allah telah mengabadikan teladan bagi para perempuan.

Khadijah adalah perempuan yang cerdas, ibu rumah tangga yang amanah, pendidik bagi anak-anaknya, wirausahawan yang sukses, istri seorang Nabi dan Rasul, dan pejuang di jalan Allah….

Dan mustahil bagi Allah menjadikan Khadijah sebagai suri tauladan jika tidak mungkin untuk diteladani, karena pada hakikatnya, perempuan... adalah orang-orang yang mampu melakukan semua itu..


Baca Juga yang ini ya :
Pasang Iklan

Mau donasi lewat mana?

BSI a.n. Kholil Khoirul Muluk
REK (7310986188)
Bantu SantriLampung berkembang. Ayo dukung dengan donasi. Klik tombol merah.
Alumni Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung.

Suratku untuk Tuhan - Wahai Dzat yang kasih sayangnya tiada tanding, rahmatilah tamu-tamuku disini. Sebab ia telah memuliakan risalah agama-Mu. Selengkapnya

Donasi

BANK BSI 7310986188
an.Kholil Khoirul Muluk