0

Tokoh Pelopor Persatuan dalam Perbedaan

Sahabat SantriLampung Rohimakumullah; Indahnya Islam Ahli Sunnah wal Jamaah adalah Berbeda tetap satu Tujuan (Allah). Muslim yang Ahlus Sunah wal Jamaah harus memiliki sifat Rahmatan lil Alamin tidak menyesatkan yang lain, tidak menajiskan yang lain, saling menghormati dan menghargai pilihan madzhab ataupun firqoh, serta ta'awanu 'alal birri wa taqwa. Sahabat; berikut adalah tokoh pelopor persatuan (pemersatu) dalam perbedaan; 

  • Imam Abu Hanifah
  • Imam Abu Hanifah berkata : "Saya benar, tapi bisa salah dan orang lain salah tapi bisa benar!"

    Perkataan Imam Abu Hanifah di atas dapat difahami bahwa, Boleh jadi Ijtihad hukum yang dilakukan oleh Imam Hanifah benar ketika di aplikasikan di negerinya; tetapi menjadi tidak tepat jika ijtihad hukum Imam hanifah tersebut di aplikasikan di negeri Imam Syafii.  demikian sebaliknya. Ijtihad Imam Syafii boleh jadi benar di tempat ia berijtihad tetapi tidak tepat jika diterapkan di tempat imam hanifah berijtihad. Hal tersebut terjadi pengaruh perbedaan geologi, kultur, budaya dan lain sebagainya. Tetapi meski berbeda dalam pandangan hukum mereka tetap tawadhu' dan saling menghormati Ijtihad masing-masing. MKA

  • Dr. Ir. Muhammad Imaduddin Abdulrohim, M.Sc.
  • Dr. Ir. Muhammad 'Imaduddin' Abdulrahim MSc mengatakan, "Bagiku tidak ada masalah Sunni dan Syi'ah. Sesungguhnya kedua label ini bahkan harus dihilangkan. Kita harus menyatakan diri, bukan Sunni dan bukan Syiah, tetapi Islam (seorang Muslim). Aku pernah shalat dibelakang Imam Syi'ah, seperti juga aku sering shalat dibelakang Imam Sunni."

  • Dr. Nurcholis Madjid
  • Dr. Nurcholish Madjid mengatakan, "Dalam berinteraksi ideologis' sesama Muslim, kita harus menyimpan dalam hati kita sikap 'keraguan yang sehat (healthy skepticism), yaitu sikap cadangan dalam pikiran dan siap sedia mengakui kebenaran orang lain jika memang ternyata benar, serta mengakui kesalahan diri sendiri jika memang ternyata salah. Adanya perbedaan (ikhtilaf) diantara kita, harus diterima sebagai kenyataan yang selama-lamanya tidak akan bisa dihapus. Maka perlu i'tilaf (serasi, harmoni) berujud pola hubungan antara sesama pemeluk di atas kerangka pandangan yang penuh pengertian dan tenggang menenggang. 

    Al Qur'an sendiri mengisyaratkan sebagai berikut, "Dan janganlah kamu termasuk yang musyrik, yang terdiri dari orang-orang yang memecah belah agama mereka, kemudian mereka nenjadi berkelompok-kelompok, setiap kelompok membanggakan apa yang ada pada diri mereka." (ArRuum:32).

  • Hadrotus Syeikh K.H. Muhammad Hasyim Asy'ari
  • KH Muh. Hasyim Asy'ari, Rais Akbar Nahdlatul Ulama, mengatakan :"..... telah terjadi perselisihan pendapat antara Imam Abu Hanifah dan Imam Malik dalam berbagai masalah hukum yang jumlahnya mencapai sekitar 14.000 yang menyangkut bab ibadah dan mu'amalah; dan antara Imam Syafii dan gurunya Imam Malik dalam berbagai masalah hukum yang jumlahnya mencapai kira-kira 6.000; demikian pula antara Imam Ahmad lbn Hanbal dan gurunya Imam Syafii dalam berbagai masalah hukum. Namun tidak seorangpun dari mereka memusuhi yang lain, tidak seorang pun mencaci maki yang lain, tidak seorang pun dengki kepada yang lain, dan tidak seorang pun menisbahkan yang lainnya kepada kesalahan atau pun cacat. Sebaliknya, mereka tetap selamanya saling mencintai, semuanya menunjukkan sikap yang bersih kepada sesama saudara mereka, dan saling berdoa satu sama lain untuk kebaikan bersama. 

    .... sikap saling membenci, memusuhi, dan saling memutuskan hubungan yang terjadi antara kita karena perbedaan dalam satu atau beberapa perkara adalah berasal dari godaan setan serta dari keinginan saling unggul dan menyombongkan diri antara sesama saudara karena doro ngan mengikuti hawa nafsu ...

  • Jalaludin Rahmat
  • Jalaluddin Rakhmat mengatakan, ".. kini orang semakin menyadari bahwa perbedaan mazhab fiqih itu seringkali dibesar-besarkan untuk kepentingan politik. Bukankah dua mazhab awal -Sunni dan Syi'ah- muncul karena perbedaan visi politik? Sunni ingin melegitimasikan kepemimpinan yang sudah ada, sementara Syi'ah mempertahankan kepemimpinan keluarga Rasul. Dari perbedaan pandangan politilk dijabarkanlah perbedaan fiqih. Oleh karena itu orang menyimpulkan bahwa mazhab-mazhab fiqih berkembang sejalan dengan perkembangan sistem politik." Menurut Jalaluddin lagi, kesadaran akan hal inilah yang menyebabkan orang kini lebih terbuka, lebih sosial, dan lebih tidak fanatik mazhab. Orang dapat berbeda pendapat tanpa harus berpecah. Imam Syafii dan Imam Ahmad bin Hanbal banyak berbeda pendapat, tetapi mereka tetap saling menyayangi dan saling  menghormati. 


Dari uraian di atas, mudah-mudahan kita dapat memahami bahwa perbedaan pendapat atau pun mazhab tidaklah menjadi masalah. Adalah tugas kita semua sesama Muslim untuk menjaga agar perbedaan ini tidak merusak "kedamaian, ketenteraman dan ketenangan." Kendalikanlah nafsu untuk 'mau menang sendiri' dengan mengingat firman Allah, "Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya, dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya."

Terima kasih sayang sudah membaca, semoga mencerahkan. Semoga Ahli Syurga beserta keluarga. Bukankah Aduhai Indahnya jika bisa berjumpa Rosulullah bersama Keluarga. Allohumma sholli ala Muhammad bihaqqihi fastajib...

Baca Juga yang ini ya :
Pasang Iklan

Mau donasi lewat mana?

BSI a.n. Kholil Khoirul Muluk
REK (7310986188)
Bantu SantriLampung berkembang. Ayo dukung dengan donasi. Klik tombol merah.
Alumni Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung.

Suratku untuk Tuhan - Wahai Dzat yang kasih sayangnya tiada tanding, rahmatilah tamu-tamuku disini. Sebab ia telah memuliakan risalah agama-Mu. Selengkapnya

Donasi

BANK BSI 7310986188
an.Kholil Khoirul Muluk