Doa Ibu mampu menembus 7 lapis langit

Sahabat SantriLampung rohimakumullah; Alkisah; Di sebuah bukit yang tinggi, di mana awan seolah bisa disentuh dengan tangan, Nabi Musa AS bersimpuh memohon kepada Rabb-nya. 

"Ya Allah," Bisiknya dengan suara yang bergetar penuh ketawaduan, "tunjukkanlah kepadaku, siapakah orang yang akan menjadi pendampingku di surga nanti? Aku ingin mengenal sosok mulia yang derajatnya Engkau sejajarkan dengan seorang Nabi."

Jawaban itu datang bukan dalam bentuk kilat atau guruh, melainkan ilham yang menuntun langkah beliau ke sebuah pasar yang hiruk-pikuk di pinggiran kota. 

Nabi Musa berjalan di antara kerumunan manusia, mencari sosok yang mungkin terpancar cahaya kesalehan dari wajahnya. Namun, langkahnya terhenti di sebuah kedai kumuh. 

Di sana, seorang pemuda dengan pakaian yang kotor oleh noda dan bau yang menyengat sedang sibuk mengurus hewan-hewan yang dalam syariat masa itu dipandang rendah dan menjijikkan, babi.

Musa tertegun. Ada gejolak dalam hatinya, namun beliau tetap menjaga adab sebagai seorang pencari hikmah. Beliau mengikuti pemuda itu dalam diam. 

Ketika matahari mulai tergelincir ke ufuk barat, si pemuda mengemasi barang-barangnya. Ia membawa bungkusan daging terbaik dan berjalan menuju sebuah gubuk kecil di pinggiran hutan.

Nabi Musa memberanikan diri mengetuk pintu. "Wahai pemuda, maukah kau menerima seorang musafir untuk bertamu?"

Pemuda itu tersenyum tulus, wajahnya lelah namun teduh. 

"Rumahku sempit dan berbau, Tuan. Tapi jika Tuan tak keberatan, pintu ini selalu terbuka."

Di dalam gubuk itu, Musa menyaksikan pemandangan yang meruntuhkan segala ego. Pemuda itu tidak segera makan atau beristirahat. 

Ia mengeluarkan sekeranjang bambu yang tergantung tinggi. Di dalamnya, terbaring sesosok tubuh yang sangat renta, kurus kering, dan tak berdaya. 

Dengan gerakan yang sangat lembut seolah sedang menyentuh permata yang paling rapuh di dunia, pemuda itu memandikan ibunya, mengganti pakaiannya, lalu menyuapinya makanan yang telah dikunyah halus terlebih dahulu agar sang ibu mudah menelannya.

Sang ibu, yang mata dan telinganya sudah tak lagi berfungsi sempurna, hanya bisa menggerakkan bibirnya yang pucat. Ia membisikkan sesuatu yang hampir tak terdengar, namun membuat bahu si pemuda terguncang pelan karena haru.

"Apa yang ia katakan padamu, anak muda?" tanya Musa dengan suara serak.

Pemuda itu menoleh, matanya berkaca-kaca. "Setiap hari, setelah aku merawatnya, ibu selalu membisikkan doa yang sama : 

'Ya Allah, jadikanlah anakku ini pendamping Musa bin Imran di surga-Mu.' Aku hanya seorang pemelihara hewan yang kotor, Tuan. Aku tahu doa itu mustahil, tapi aku tak pernah sanggup menghentikan harapan ibu yang sangat mencintaiku."

Air mata Musa AS jatuh tak terbendung. Beliau berdiri dan memeluk pundak pemuda yang berbau amis itu. "Wahai pemuda, bergembiralah. 

Akulah Musa bin Imran, dan Allah baru saja mengabarkan kepadaku bahwa doa ibumu telah menembus tujuh lapis langit. Engkaulah orangnya, pendampingku di keabadian nanti."

Penting direnungkan :

Sungguh malang nurani yang sibuk membasuh kening dengan sujud yang panjang, namun membiarkan air mata ibunya jatuh karena merasa terabaikan. 

Kita seringkali terlalu sibuk mendaki gunung-gunung kesalehan yang tampak megah di mata manusia, hingga lupa bahwa kunci surga justru tergeletak di bawah telapak kaki yang pecah-pecah dan renta di sudut rumah. 

Jangan-jangan, parfum paling wangi di hadapan Arsy bukanlah kesturi yang mahal, melainkan bau keringat seorang anak yang tabah menggendong masa tua orang tuanya di tengah hinanya pandangan dunia.


#islam #kisahislami #sejarahislam #rasulullah #kisahnabimusa

Baca Juga yang ini ya :
Pasang Iklan

Mau donasi lewat mana?

BSI a.n. Kholil Khoirul Muluk
REK (7310986188)
Bantu SantriLampung berkembang. Ayo dukung dengan donasi. Klik tombol merah.
Alumni Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung.

Suratku untuk Tuhan - Wahai Dzat yang kasih sayangnya tiada tanding, rahmatilah tamu-tamuku disini. Sebab ia telah memuliakan risalah agama-Mu. Selengkapnya

Donasi

BANK BSI 7310986188
an.Kholil Khoirul Muluk