Mendekatkan diri kepada Allah

Taqorub - Mendekatkan diri kepada Allah melalui ilmu dan dzikir.




Hai orang orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya ... Al Maidah (5):35.

Sahabat SantriLampung yang dirahmati Allah; Bermacam-macam jalan yang dapat ditempuh oleh manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah, Ada yang melui jalan sains (ilmu) atau logika, seperti membaca ilmu Agama yang dengannya kita akan kerap menyebut asma Allah. Ada pula yang melalui senntuhan qolbu atau getaran hati, ada yang melalui dzikir. Dan ada pula yang melalui perantaraan musibah yang menimpnya. Demikianlah, Allah memang membuka banyak jalan bagi manusia yang ingin menghampiri-Nya. Jika manusia menempuh beberapa jalan sekaligus untuk menuju kepa-Nya, maka hasilnya akan lebih cepat dan berbobot.

Yang akan kami kemukakan disini adalah menuju kepada-Nya khususnya melalui dzikir. Teori mengenai dzikir ini, dapat direnungkan pada beberapa keterangan dibawah ini;

Dan sebutlah nama Tuhanmu dalam hatimu, dengan merendahkan diri dan rasa takut dan dengan tidak mengeraskan suara, diwaktu pagi dan petang. Dan janganlah kamu termasuk orang yang lalai. Al a'raf (7):205.

Hai orang orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama Allah) dzikir yang sebanyak-banyaknya ... Al Ahzab (33):41.

dan sebutlah nama Tuhanmu pada waktu pagi dan petang. Al Insaan (76):25.

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalatmu,  ingatlah Allah diwaktu berdiri, diwaktu duduk, dan diwaktu berbaring... An Nisa (4):103.

Hai orang orang yang berriman, janganlah harta hartamu dan anak anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah, barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang orang yang merugi. Al Munafiqun (63):9.

Dalam Hadits Qudsi Allah berdirman : Aku selalu menuruti sangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Dan Aku selalu menyertainya ketika ia berdzikir kepada-Ku. Dan jika ia ingat kepada-aku di dalam jiwanya, maka Aku pun mengingatkan di dalam Zat-Ku, dan jika ia mengingat-Ku di tempat ramai, Aku pun mengingatnya di tempat ramai yang lebih baik daripadanya, jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku pun mendekat kepadanya sehasta, jika ia mendekat sehasta maka Aku pun mendekatinya satu depa, dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan datang dengan berlari cepat.

Pengalaman menunjukkan, teori yang disebutkan di atas itu hanya dapat dipraktekkan dengan benar oleh orang yang bertaqwa; yaitu orang yang selalu taat mematuhi aturan main (hukum) Allah. Dan untuk dapat menjadi orang yang bertaqwa, maka batin harus bersih; tidak mudah dipermainkan oleh nafsu.

Jadi jelaslah bahwa fundamen yang diperlukan untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui dzikir adalah kemampuan dalam menguasai nafsu. Disamping itu konsekwensi logis dari orang yang dikuasai nafsu akan muncul padanya sifat-sifat : keras kepala, lekas marah, pengumpat, merasa benar sendiri, kejam, takabur atau sombong, yang kesemuanya itu akan menghalangi kebahagiaan yang dicita-citakan. Seorang tokoh sufi yang bernama Abu Bakar Ath-Thamastani (wafat tahun 951 M) berkata, "Nikmat yang paling agung adalah  keluar dari hawa nafsu, karena hawa nafsu adalah tabir yang paling besar antara seseorang dengan Allah." 

Kemampuan menguasai nafsu dapat kita miliki dengan melalui pengamalan ayat "inna sholati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi robbil 'alamiin" (Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, matiku, semata-mata hanya untuk Alah, Tuhan sekalian alam). Sadarilah bahwa seluruh gerak gerik kita harus diselaraskan dengan maksud Allah menciptakan kita. Bukankah sesuatu itu akan menjadi rusak bila dipergunakan tidak sebagaimana maksud tujuan penciptaannya? 

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya me- reka mengabdi kepada-Ku". Adz-Dzaariyaat (51):56 

Lakukanlah evaluasi menjelang tidur, dan menyesali kegagalan-kegagalan pengendalian nafsu pada hari-hari yang telah dilalui. Hal ini harus dilakukan terus menerus (kontinyu). 

"Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya, dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya". An-Naazi'aat (79):40, 41 

Selanjutnya, amalkanlah teori yang disebutkan di atas, yaitu menyebut nama Allah (al-asma'ul husna) berulang-ulang di dalam hati dengan menghadirkan rasa rendah diri (tawadhu) yang disertai rasa takut karena merasakan keagungan-Nya. Makin tinggi ketaqwaan yang kita miliki, maka zikir akan terasa semakin khusuk. Zikir ini dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Tidak perlu menghitung jumlahnya, yang penting adalah menghunjam di dalam kalbu. 

Dalam melaksanakan zikir ini, akan banyak dijumpai rintanngan dan godaan yang menghadang. Untuk itu diperlukan bekal motivasi yang tinggi. Salah satunya adalah firman Allah berikut: 

"Setan telah menguasai hati mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat AIlah. mereka itulah golongan setan. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi". Al-Mujaadilah (58):19 

Bila kita melakukan zikir ini dengan benar, tidak sekedar mengucap di bibir saja, maka kita akan merasakan hati menjadi tenteram dan peka, sesuai dengan firman Allah berikut: 

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. Ar-Ra'd (13):28 

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut Allah gemetarlah hati mereka .... Al-Anfaal (8):2 

Sebagaimana telah aku sebutkan, zikir bukanlah satu-satunya jalan untuk menuju kepada-Nya. Kita dapat pula mendekatkan diri kepada Allah melalui perbuatan sehari-hari. Yaitu dengan selalu meniatkan bahwa yang kita lakukan adalah semata-mata hanya karena taat mematuhi aturan main-Nya. Misalnya, kita berbuat baik kepada tetangga bukan lantaran ia baik kepada kita, tetapi semata-mata karena Allah menyuruh kita untuk berbuat demikian. Kita bersedekah bukan karena kasihan, tapi semata-mata karena Allah memerintahkan kita untuk mengeluarkan sedekah membantu meringankan beban orang yang sedang dalam kesusahan. Demikian pula kita hormat pada mertua bukan karena mereka itu baik terhadap kita, tetapi semata-mata karena Allah menghendaki kita menghomati mereka. Hal ini mestinya dapat kita lakukan, karena bukankah pada waktu kecil dulu kita mampu patuh melaksanakan perintah dan nasihat orang tua? Mengapa sekarang setelah dewasa kita tidak sanggup patuh pada perintah-perintah Allah? Kalau shalat dapat kita kerjakan karena semata-mata taat mematuhi perintah Allah, rasanya mustahil bila kita tidak dapat bersikap demikian pada perbuatan-perbuatan lainnya!. 

Dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Rasulullah bersabda : "Peliharalah (perintah dan larangan) Allah, niscaya kamu akan selalu merasakan kehadiran-Nya. Kenalilah Allah waktu kamu senang, niscaya Allah akan mengenalimu waktu kamu dalam  kesulitan." Dan dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Rasulullah berpesan : 

"Barangsiapa memberi karena Allah menolak karena Allah, mencintai karena Allah membenci karena Allah, dan menikahi karena Allah, maka sempurnalah imannya." 

Jaminan Allah dalam Al-Qur'an : 

"Barangsiapa di antara kamu yang patuh kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mengerjakan perbuatan baik, niscaya akan Kami berikan pahala dua kali lipat. dan untuk mereka Kami sediakan rezeki yang banyak". Al-Ahzab (33):31 

Kombinasi kedua jalan yang disebutkan di atas telah terbukti sangatlah efektif.  Barokallohu fiy kum... klik kembali ke beranda renungan.

Baca Juga yang ini ya :
Pasang Iklan

Mau donasi lewat mana?

BSI a.n. Kholil Khoirul Muluk
REK (7310986188)
Bantu SantriLampung berkembang. Ayo dukung dengan donasi. Klik tombol merah.
Alumni Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung.

Suratku untuk Tuhan - Wahai Dzat yang kasih sayangnya tiada tanding, rahmatilah tamu-tamuku disini. Sebab ia telah memuliakan risalah agama-Mu. Selengkapnya

Donasi

BANK BSI 7310986188
an.Kholil Khoirul Muluk