Riya Pamer
Diriwayatkan dalam salah satu hadits bahwa Rasulullah saw. bersabda,
"Sesungguhnya yang paling kutakuti atas kamu adalah syirik kecil. Sahabat bertanya, "Apa syirik kecil itu ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Itulah riya' (pamer). Di hari kiamat nanti, Allah akan berkata kepada mereka : "Pergilah kamu kepada orang-orang yang menyebabkan kamu beramal ingin dipujinya. Mintalah balasan padanya!".
Dalam pengabdiaan kepada Allah, kita harus mampu mengkondisikan seolah-olah pandangan atau perhatian orang itu tidak ada, yang ada semata-mata hanyalah pandangan Allah. Seseorang yang benar-benar mempunyai kesungguhan dalam beramal, pastilah ia merasa puas dengan pengamalannya itu, dan kebahagiaannya bukan lantaran amalnya dilihat orang, apalagi kalau dipuji.
Seorang Ulama besar berkata, "Barang siapa merasa senang orang melihat amalnya, maka dia itu adalah orang yang riya. Dan barangsiapa yang merasa senang orang melihat tingkah lakunya, maka dia itu adalah pendusta."
Jadi jelaslah, pengabdian itu akan sia-sia bila terbersit -walaupun sedikit- perasaan ingin disanjung orang; ingin dianggap sebagai orang yang paling aktif dalam pengabdian. Apalagi bila ingin terkenal di masyarakat. Demikian juga bila kita merasa senang kalau 'keistimewaan' kita itu diketahui oleh orang lain. Ini pertanda pengabdian kita pada Allah belum bersungguh-sungguh. Dalam hal ini, seorang ulama besar pada zamannya yaitu Ahmad Athailah Assakandari berkata : "Keinginan agar keistimewaanmu diketahui orang adalah bukti tidak adanya kejujuran dalam kehambaanmu."
Allah Yang Maha Bijaksana sebenarnya telah memberikan pelajaran bagi kita bagaimana bersikap ikhlas, yaitu sebagai lawan dari sikap riya. Betapa Dia telah memisahkan susu binatang ternak dari bercampurnya susu tersebut dengan tahi dan darah, padahal ketiga macam benda itu sama-sama berada dalam satu wadah. Begitu jugalah mestinya ikhlas. Walaupun ia bercampur dengan rasa bangga atau sombong yang memang ada pada diri manusia, tetapi ia harus bisa memisahkan diri sebagaimana halnya susu yang keluarnya putih tidak bercampur dengan tahi.
Rasulullah saw. pun pernah berwasiat kepada Abu Dzar. "Hai Abu Dzar, perbaruilah kapalmu, karena lautan itu sangat dalam. Bawalah perbekalan secara sempurna, karena perjalanan amat jauh sekali. Kurangilah bebanmu, karena tanjakan di depan bagaikan gunung, dan ikhlaskan amalmu karena Zat yang menilai baik atau buruk itu Maha Melihat.
Seorang ahli hikmah yang bernama Muhammnad bin Aslam, ketika ditanyakan kepadanya bagaimana ia dapat keluar dari jeratan Sifat riya, maka ia pun berkata : "Mengapa aku harus riya pada manusia? Ada urusan apa aku dengan mereka? Padahal aku dulu berada di dalam tulang sumsum bapakku seorang diri kemudian jadilah aku di dalam perut ibuku seorang diri, kemudian aku lahir ke dunia seorang diri; kemudian dicabut rohku seorang diri, lalu aku masuk ke liang kuburku seorang diri dan datang padaku malaikat Munkar dan Nakir lalu bertanya keduanya kepadaku seorang diri, dan jika aku berada dalam kenistaan niscaya jadilah aku seorang diri; kemudian setelah itu aku berhenti di hadapan Allah seorang diri, kemudian menyerahkan amalku dan dosaku di dalam timbanganku seorang diri pula: maka jika Ia menyuruhku ke surga, menyuruhku seorang diri: demikian juga bila la menyuruhku ke neraka menyuruhku se orang diri, maka ada urusan apa aku dengan manusia?"
Bila kita menyadari bahwa di akhirat nanti kita akan sendiri dan meyakini bahwa setiap amal pasti dilihat Allah (Al-Zalzalah:7), apa kah sikap riya itu bukannya suatu kebodohan yang nyata?
Kita memang harus bersungguh-sungguh mengatasi sikap riya yang meracuni hati. Salah satu cara yang ampuh adalah dengan doa. Bukankah Rasulullah saw. pernah mengajarkan pada kita, Doa adalah senjata orang Mukmin Bila misalnya suatu ketika kita ingin agar orang-orang mengetahui "kehebatan" ilmu yang kita miliki; ataupun ingin pujian orang karena merasa begitu hebatnya amal saleh yang telah kita lakukan, maka segeralah gunakan 'senjata' itu: "Ya Allah, sembunyikanlah aku agar tidak ada orang di dunia ini yang mengetahui kehebatanku!".
Takutlah kalian pada pujiam, Sesungguhnya pujian itu suatu penyembelihan. (Sabda Raosulullah Muhammad).
Mau donasi lewat mana?
REK (7310986188)

Gabung dalam percakapan