Sampaikanlah
Sahabat SantriLampung rohimakumullah; Sebagaimana diketahui, penyampaian dakwah itu hukumnya adalah fardhu 'ain. Rasulullah saw. menegaskan hal ini dalam sabdanya yang terkenal, "Sampaikanlah walaupun hanya satu ayat." Tetapi disamping hadits ini, perlu pula kiranya diperhatikan sabda Nabi lainnya yang mengatakan. "Apabila dikerjakan suatu pekerjaan oleh yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya!" Dengan demikian, jelaslah, kita dituntut untuk menyampaikan kebenaran itu secara profesional.
Perlu disadari, dalam berdakwah atau menyampaikan kebenaran itu, kunci suksesnya terletak pada kemampuan awal dalam menciptakan suasana yang serba ikhlas. Kedua belah yang akan saling berinteraksi idiologis ini harus benar-benar menerapkan keikhlasan. Di satu pihak ikhlas memberikan ilmunya, dan di pihak lain juga ikhlas untuk mendengarkan dengan seksama. Tanpa terlebih dahulu membangun suasana ikhlas ini maka sulit sekali diharapkan berlangsung interaksi yang positif Luqman Al-Hakim berkata, "Memindahkan batu besar dari puncak gunung lebih aku sukai daripada memberi nasihat kepada orang yang tidak mau mendengar." Dengan demikian, bila kita tidak berhasil membangun suasana yang serba ikhlas itu, maka kita harus ikhlas untuk meninggalkannya (forget it! ).
Ketika menyampaikan kebenaran, janganlah dibumbui dengan ucapan-ucapan yang terlalu banyak mengundang tawa. Rasulullah saw. telah bersabda, "Banyak tertawa membuat hati mati!" Cukuplah senda gurau sebatas melonggarkan pikiran. Prof. Dr. Hamka dalam hal ini berkata, "Bahaya besar bila bergurau adalah bila memperkatakan perkara penting jatuh kepada senda gurau juga, sebab sudah biasa. Tetapi kalau majlis itu tidak sedikit juga dicampuri keriangan, otak akan menjadi berat berpikir."
Bila yang kita hadapi adalah tipe orang yang tidak mungkin akan dapat ikhlas dalam berinteraksi idiologis, maka orang yang demikian itu tidak perlu ditanggapi (lebih banyak mudharatnya daripada kebaikannya!). Mereka cukup diberi komentar-komentar pendek. Misalnya, "Lihat saja Al-Qur'an!" atau, "Sesuaikan saja dengan suri )tauladan kita!"
Demikian pula apa yang kita sampaikan itu hendaklah tidak mengajari hal-hal yang sudah diketahui. Hindarilah membuang garam ke lautan Manusia tidak perlu diajari lagi mana perbuatan baik dan mana perbuatan buruk, karena semua manusia pada dasarnya sudah tahu mengenai itu. "Dan Kami telah menunjukan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan)" (Al-Balad:10). Ingat pula bahwa manusia memang dari sananya bersifat hanif (condong pada kebaikan), karena itu ia tidak perlu lagi diajari baik dan buruk. Yang perlu diberikan padanya adalah motivasi agar ia dapat selalu bersifat hanif. Jika seseorang telah tahu cara membaca. bukankah kita tidak perlu lagi mengajarinya untuk mengenal alfabet? Yang perlu kita lakukan disini adalah memberinya dorongan agar ia mau mnembaca buku.
Dalam penyampaian dakwah ini, haruslah selalu dingat bahwa tujuan diciptakannya agama itu adalah untuk menghantarkan pemeluknya mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan memperoleh kenikmatan surga di akhirat nanti. Fakta menunjukan, jika sesuatu (apapun itu) diperlakukan tidak sesuai dengan tujuan/maksud pembuatannya, maka pasti pada akhirnya kita akan merugi. Bila nuansa ini dapat selalu kita hadirkan pada waktu berdakwah, maka insya Allah tidak akan ada bentrokan pendapat yang emosional, ataupun lepas kontrol sehingga bukannya memberikan ketenangan batin tetapi malahan membakar emosi.
Orang yang berdakwah dengan membawa nuansa bahwa agama itu adalah pedoman untuk hidup bahagia, niscaya ia tidak akan merasa kecewa bila ucapannya diabaikan, dan tidak pula merasakan kepuasan bila pendapatnya diikuti. Tuntunan Al-Qur'an dalam menyampaikan kebenaran ini sebenarnya sudah amat jelas, yaitu: cara penyampaiannya harus menggunakan bahasa yang mudah dimengerti ¹), bijaksana ²) tidak memaksa ³), tidak mengakibatkan putusnya persaudaraan ⁴), dan "tahu dịri" bahwa tugasnya adalah hanya sebatas menyampaikan saja ⁵).
¹) Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. QS. Ibrahim (14):4.
²) Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik, dan berdiskusilah dengan mereka dengan cara yang paling baik dan ramah. Sungguh Tuhanmu, Ia lah yang lebih mengetahui. QS. An-Nahl (16):125.
³) Siapa yang ingin beriman maka silahkan beriman, dan siapa yang bermaksud kufur (menolak kebenaran) maka silahkan pula menolaknya. QS. Al Kahfi (18): 29.
⁴) Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan ? Mereka itulah yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka, serta dibutakan-Nya penglihatan mereka. QS. Muhammad (47):22, 23.
⁵) ... Kamu tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan. QS. Faathir (35): 23
"Apabila engkau mendengar ilmu, maka sebarkanlah. Dan jangan engkau campurkan ia dengan senda gurau, agar nanti tidak dimuntahkan hati" Ali bin Abi Thalib
"Orang yang menyampaikan lebih sering dapat memelihara daripada yang hanya mendengarkan." Sabda Nabi Muhammad saw
Kekuatan komunikasi yang Paling tinggi adalah berbicara jujur dengan sepenuh hati.
Mau donasi lewat mana?
REK (7310986188)

Gabung dalam percakapan