Kebodohan Abu Jahal berbuah Kehinaan



Setelah Rasulullah melakukan dakwahnya secara sembunyi-sembunyi selama 4 tahun, maka tibalah saat melakukan dakwah secara terbuka dihadapan para penduduk Mekkah. Namun diantara seorang penduduk Mekkah ada seorang lelaki bernama Abu Jahal yang melakukan protes penolakan teramat keras. Mulut Abu Jahal seperti tak henti-hentinya mengoceh untuk menghasut masyarakat Mekkah agar tidak percaya dengan segala ucapan Rasulullah Muhammad yang dinilai telah merusak kepercayaan dan tatanan masyarakat Mekkah.


Penolakan Abu Jahal terhadap ajaran yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Sesungguhnya hanya dilandasi rasa persaingan antar suku. Abu Jahal yang berasal dari suku Bani Mahsum menuduh ajaran yang disampaikan oleh Muhammad SAW. adalah dalih untuk mengangkat Bani Hasyim yang merupakan suku asli keluarga besar Rasulullah.


Padahal jauh di dalam lubuk hati Abu Jahal ia begitu kagum pada islam, terutama pada ayat-ayat suci Al-Quran. Sebagai orang yang cerdas, orang yang bernama asli Amr bin Hisyam ini paham bahwa Al-Quran bukanlah kalimat biasa yang diuntai oleh manusia. Ia seringkali mendengarkan Rasulullah SAW. dan kaum muslimin melantunkan ayat-ayat Al-Quran. Tapi ternyata bukan cuma Abu Jahal yang mengagumi Al-Quran. Beberapa tokoh Quraisy lainnya termasuk Abu Sufyan juga menyimpan kekaguman yang sama, hingga seringkali keduanya saling bertemu secara tak sengaja ketika mencuri dengar bacaan Al-Quran. Namun mereka juga saling tidak mengakui dengan apa yang mereka lakukan. Hingga mereka berjanji tidak lagi mendengarkan Al-Quran, tapi tetap saja di lain hari mereka diam-diam kembali melakukan hal yang sama. Abu Jahal sebenarnya tak mampu membendung rasa cintanya pada Al-Quran, tapi egonya terlalu besar hingga hati nurani Abu Jahal tertutup karena gengsi mengakui kenabian Muhammad.

Namun kebencian Abu Jahal terhadap islam terganjal oleh Abu Thalib sang paman Rasulullah. Yang juga merupakan tokoh terpandang Quraisy. Maka kebencian itu juga menjalar pada ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad. Adalah Abdullah bin Mas'ud, seorang penggembala kambing yang memberanikan diri membacakan ayat-ayat Allah secara lantang di depan Ka'bah. Abdullah bin Mas'ud seolah tak memikirkan keselamatan jiwanya lagi demi berkumandangnya ayat-ayat Allah di hadapan para penduduk Mekkah.

Inilah yang membuat Abu Jahal menjadi murka seketika. Saat mengetahui bahwa bacaan tersebut berasal dari ajaran yang dibawa oleh Muhammad. Maka tak pelak Abu Jahal dan beberapa tokoh Quraisy lainnya segera menghampiri dan melayangkan pukulan kepada Abdullah bin Mas'ud degan bertubi-tubi.

Tak hanya sampai disitu, Abu Jahal juga semakin gencar memusuhi Rasulullah. dengan melakukan penghinaan secara membabi-buta. Terlebih setelah permintaannya kepada Abu Thalib untuk menyerahkan Muhammad. ditolak mentah-mentah. Bahkan tindak tanduk Abu Jahal tak lagi sebatas perkataan hina semata, namun mulai mejurus pada penganiayaan fisik. Seperti disaat Rasulullah. dan para pengikutnya sholat di depan Ka'bah, Abu Jahal menuangkan kotoran hewan kepada Rasulullah. saat sedang bersujud. Namun sia-sia Abu Jahal melakukan tindakan ini karena Rasulullah.

dan para pengikutnya tak sedikitpun menunjukkan sikap gentar. Tindakan Abu Jahal justru memancing kemarahan Hamzah bin Abdul Muthalib, salah seorang paman Nabi Muhammad. Hamzah yang justru belum menyatakan beriman terhadap ajaran Rasulullah kemudian menghampiri dan menghajar Abu Jahal karena tidak terima keponakannya dilecehkan di depan umum. Abu Jahal tidak dapat berbuat apa-apa, ia juga tidak membalas tindakan Hamzah terhadap dirinya, namun mengancam akan bertindak lagi kepada Rasulullah jika suatu saat kembali melakukan ibadah di depan Ka'bah.

Dan benar saja, disaat Rasulullah dan kaum muslimin kembali melakukan sholat di depan Ka'bah, Abu Jahal tak dapat membendung emosinya. Bak kemasukan syaitan, Abu Jahal hendak menginjak leher Rasulullah. Namun, lagi-lagi tindakan Abu Jahal terhenti. Ia terlihat ketakutan seolah melihat sosok manusia bertubuh besar yang sedang bersama Rasulullah. Sesungguhnya inilah salah satu mukjizat Nabi Muhammad yang tidak disadari Abu Jahal akibat kebodohannya yang mengingkari hati nurani.

Salah satu yang menolak hidayah masuk kepada Abu Jahal adalah fanatisme yang berlebihan di dalam hatinya. Fanatisme dibagi menjadi dua, yaitu fanatisme negatif dan positif. Fanatisme positif akan menghasilkan loyalitas. Sedangkan fanatisme negatif adalah seperti yang disampaikan oleh Rasulullah bahwa orang yang mati dibawah bendera kebodohan, membela fanatisme terhadap kelompoknya, dia mati dalam keadaan jahiliyah. Terlalu fanatik terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan Allah dan Rasul-Nya akan menggiring manusia ke dalam neraka.

Baca juga :

Setelah berulang kali gagal menghentikan dakwah Rasulullah SAW., Abu Jahal menempuh cara lain, ia tidak lagi berfokus pada Nabi Muhammad, melainkan kepada para pengikutnya yang kebanyakan berasal dari golongan strata rendah. Maka Abu Jahal mulai melakukan sweeping, menangkap para pengikut Rasulullah yang tidak memiliki perlindungan. Diantaranya adalah pasangan Yasir dan Sumayah serta anak mereka Amar bin Yasir. Keluarga Yasir menjadi sasaran empuk kebiadaban Abu Jahal dengan menerima siksaan teramat kejam. Mereka dipaksa untuk meninggalkan ajaran Muhammad SAW. dan kembali pada ajaran nenek moyang. Namun Yasir dan Sumayah tetap bertahan dengan keimanan sepenuh hati, meski akhirnya mereka wafat sebagai syuhada pertama dalam islam.

Sementara Amar bin Yasir yang tidak tahan dengan siksaan Abu Jahal terpaksa menyerah dan mengikuti kemauan Abu Jahal dan menyatakan tidak mengakui ajaran Rasulullah SAW. Abu Jahal merasa puas, kegembiraannya meluap setinggi langit setelah membuat Amar bin Yasir tak berdaya. Abu Jahal tidak tahu bahwa ucapan Amar hanyalah terbatas di lisan, sementara hatinya tetap berpegang teguh pada keimanan yang telah rekat di relung hatinya.

Melihat kondisi kaum muslimin yang semakin tertindas, Rasulullah SAW. memerintahkan untuk hijrah ke negeri Habasyah agar dapat beribadah dengan tenang. Namun, Abu Jahal tidak tinggal diam. Ia berusaha untuk mencegah kepergian kaum muslimin ke Habasyah bahkan Abu Jahal sempat memukuli lagi Amar bin Yasir yang ingin ikut hijrah ke Habasyah. Maka sekembalinya kaum muslimin dari negeri Habasyah, kondisi kota Mekkah dirasakan semakin mencekam. Kaum muslimin yang baru saja tiba lagi-lagi menghadapi penindasan oleh Abu Jahal.

Perlu diketahui bahwa sebenarnya dahulu Abu Jahal yang bernama asli Amr bin Hisyam ini pernah mendapatkan panggilan kehormatan yang disebut dengan Abul Hakam. Ketika Amr bin Hisyam berusia 25 tahun dia telah menempati posisi orang-orang senior, orang-orang tua, orang-orang yang penuh dengan hikmah dan ilmu di kalangan masyarakat Quraisy. Darun Nadwah (Simak Islamic Landmarks), tempat berkumpulnya tokoh-tokoh Quraisy ketika mereka rapat menentukan banyak hal di kehidupan mereka disebutkan bahwa yang boleh duduk untuk rapat disitu hanya tokoh penting dengan usia minimal 50 tahun. Artinya, yang boleh masuk sana hanyalah orang-orang yang benar-benar berilmu dan berpengalaman.

Tapi disebutkan bahwa Amr bin Hisyam telah berhasil diterima duduk bersama orang-orang senior itu saat usianya kurang lebih baru 25 tahun. Karenanya ia mendapat sebutan Abul Hakam. Potensi sebesar itulah yang kalau saja digunakan untuk islam, maka menjadi istimewa. Tetapi jika digunakan untuk kejahiliyahan yang terjadi adalah namanya berubah menjadi Abu Jahal, yaitu orang yang bodoh.

Ada satu riwayat yang menyatakan bahwa yang menyebutkan kata Abu Jahal adalah pamannya sendiri. Paman Amr bin Hisyam ini sebenarnya sama-sama menolak Muhammad SAW. Tetapi setelah Rasulullah SAW. menyatakan diri bahwa telah menerima wahyu, maka Amr bin Hisyam ini seringkali marah-marah, lepas kontrol, ucapan lisannya kasar, mudah emosi dan seterusnya. Hingga sampai akhirnya disebutkan dia seperti orang bodoh, maka kemudian mendapat sebutan Abu Jahal. Sebutan ini bukan berarti hanya sebutan untuk orang yang bodoh, malah lebih seperti bapaknya orang bodoh atau orang yang sangat bodoh.

Sementara kaum muslimin serta Rasulullah SAW. yang tidak ikut ke Habasyah semakin ditekan. Mereka diboikot dan dan diasingkan, bahkan mereka tidak mendapatkan makanan. Kondisi memprihatinkan dialami oleh banyak kaum muslimin termasuk anak-anak yang menderita kelaparan. Sebab Abu Jahal memperketat penjagaan agar kaum muslimin tidak mendapat bantuan dari siapapun yang akan mengirimkan makanan. Dan bagi siapapun yang diketahui mengirim makanan kepada umat muslim, maka tak ada ampun baginya. Hukuman dari Abu Jahal pasti menimpa.

Hingga tiga tahun lamanya aksi pemboikotan terhadap kaum muslimin berakhir akibat surat perjanjian pemboikotan itu hancur dimakan rayap. Lagi-lagi upaya Abu Jahal untuk menghancurkan umat muslim menemui kegagalan. Maka tak ada cara lain bagi Abu Jahal, kali ini ia berencana untuk langsung menghabisi nyawa Rasulullah SAW. Ia sendiri yang mengusulkan dan memimpin langsung rencana pembunuhan dihadapan para pemimpin Kafir Quraisy lainnya. Abu Jahal juga mengusulkan agar kabilah-kabilah Quraisy mengirimkan pemuda-pemuda untuk mengeksekusi Rasulullah SAW.

Maka disuatu malam tepat sebelum Rasulullah SAW. hijrah ke Madinah, Abu Jahal memimpin para pemuda Quraisy untuk mengepung rumah Rasulullah SAW. Tapi rupanya Allah telah membutakan pengelihatan mereka, hingga tak satu pun dari mereka ada yang mengetahui bahwa Rasulullah SAW. keluar dari dalam rumahnya. Bahkan Rasul menaburkan pasir di atas kepala mereka. Abu Jahal dan orang-orang yang mengepung terus menunggu waktu yang tepat hingga datang seorang lelaki yang menghampiri mereka dan mengatakan bahwa Rasulullah SAW. telah pergi melewati mereka. Tidak percaya dengan apa yang dikatakan lelaki tadi, Abu Jahal segera memeriksa ke dalam rumah. Tapi ternyata yang ia dapati adalah Ali bin Abu Thalib yang sedang tidur.

Abu Jahal yang semakin penasaran segera mencari Rasulullah ke rumah saudara dekatnya, Abu Bakar As Siddiq. Namun ia juga tak berhasil menemukan Rasulullah maupun Abu Bakar, ia hanya menjumpai Asma', putri Abu Bakar. Abu Jahal semakin naik pitam, ia segera melakukan pengejaran hingga ke Gua Tsur (Simak Republika), namun Abu Jahal tidak yakin bahwa Rasulullah SAW. berada di dalam gua karena di mulut gua terdapat sarang laba-laba. Padahal sesungguhnya Rasulullah benar-benar bersembunyi di dalam gua. Akhirnya Abu Jahal segera kembali ke Mekkah dengan tangan hampa. Rencana untuk membunuh Rasulullah benar-benar gagal total.

Rasulullah SAW. kemudian tiba di Madinah dan membangun perdaban baru bersama kaum muslimin. Sampai setahun kemudian, tiba-tiba kaum Quraisy di Mekkah dikejutkan dengan sebuah kabar dicegatnya khafilah dagang Quraisy oleh kaum muslimin. Abu Jahal yang mendengar kabar ini segera memanfaatkan kesempatan untuk menggerakkan masyarakat Mekkah untuk membalas tindakan kaum muslimin. Hingga terkumpullah pasukan yang siap berangkat ke lembah Badar.

Tetapi sampainya di Badar, suasana telah kembali tenang antara kaum muslimin dan khafilah dagang sudah tidak ada lagi perselisihan. Disaat kaum Quraisy ingin kembali, Abu Jahal justru mencegahnya. Ia terus menghasut kaum Quraisy agar mengurungkan niat kembali ke Mekkah, baginya peperangan harus tetap berjalan karena inilah satu-satunya kesempatan untuk mengakhiri umat islam. Kesombongan telah menguasai Abu Jahal. Dengan kekuatan seribu pasukan bersenjata lengkap, ia amat yakin mampu menghabisi Rasulullah dan umat islam yang hanya berjumlah tiga ratus orang. Namun, di lembah Badar inilah, di perang pertama antara kaum Quraisy dan umat islam, Allah SWT. menunjukkan kuasanya.

Abu Jahal sang pemimpin pasukan Quraisy yang awalnya begitu yakin dapat menghabisi pasukan muslimin justru menjadi kewalahan apalagi kaum muslimin begitu mengincarnya karena kebencian yang begitu besar terhadap islam. Tapi Abu Jahal walaupun sudah terjepit, kesombongannya tetap ia tunjukkan. Tidak ada sedikitpun kalimat yang menandakan bahwa ia menyerah, bahkan hingga Abdullah bin Mas'ud datang untuk meregang nyawanya, Abu Jahal tetap menunjukkan kesombongannya. Namun Allah SWT. telah menghendaki agar tidak mematikan Abu Jahal seketika. Allah menjadikannya terkapar dalam keadaan sadar dan paham agar memperlihatkan pada kedua matanya apa yang membuat ia sampai derajat yang hina dan rendah serta dihabisi oleh orang yang dahulu ia tindas.

Abdullah bin Mas'ud berdiri di atas dada Abu Jahal, menginjaknya serta memukulnya sekuat tenaga, ia membangkitkan amarah Abu Jahal seraya mengabarkan bahwa kemenangan telah ditetapkan untuk umat islam dan kekalahan dan kehinaan telah ditetapkan untuk orang yang berpihak pada kaum musyrikin.

image_title
Pasang Iklan
Print Friendly and PDF
70513 23627 72721

Mau donasi lewat mana?

Mandiri a.n. Kholil Khoirul Muluk
REK (90000-4648-1967)
Bantu SantriLampung berkembang. Ayo dukung dengan donasi. Klik tombol merah.
Blogger and WriterCreator Lampung yang masih harus banyak belajar.

Suratku untuk Tuhan - Wahai Dzat yang kasih sayangnya tiada tanding, rahmatilah tamu-tamuku disini. Sebab ia telah memuliakan risalah agama-Mu. Selengkapnya

Donasi

BANK Mandiri 9000046481967
an.Kholil Khoirul Muluk