Gus Baha itu Beda Ia Merangkul tanpa Memukul
Gus Baha' itu beda, dia Merangkul tanpa Memukul. - Dia enggak jualan neraka. Dia enggak nakut-nakutin kita yang udah capek sama hidup. Dia justru datang bawa logika yang bikin kita mikir, "Anjir, ternyata Tuhan itu asik." Ya, dia bilang, "Tidur itu ibadah kalau tujuannya menghindari maksiat." Dia bilang, "Nopi dan guyon itu ibadah kalau itu bikin hati lo ridha sama takdir Tuhan." Dia nurunin standar kesalehan yang selama ini ketinggian biar tangan-tangan kotor kita bisa ngegapai Tuhan lagi. Dia enggak nghakimi pendosa. Dia justru ngajarin kita cara nego sama Tuhan pakai logika cerdas. Itu genius. Itu street smart. Dia paham psikologi manusia yang udah lelah dihakimi. Tapi yang paling bikin gue merinding sebenarnya bukan ilmunya, tapi ketidakpeduliannya.
Kita semua ini kan budak validasi. Kita posting status nungguin like. Kita kerja keras biar dipuji bos. Kita beli barang biar dipuji tetangga. Kita semua pengemis perhatian. Gus Baha dia beneran bodo amat. Dia enggak punya Instagram.
Awalnya dia nolak diundang ke acara-acara besar kalau enggak srek. Dia enggak peduli orang suka atau benci sama omongannya. Sikap gue enggak butuh el yang dia punya itu murni bukan gimik.
Dan itulah kenapa dia jadi magnet. Hukum alam itu lucu. Semakin lo ngejar dunia, dunia makin lari. Tapi begitu lo berani buang dunia kayak sampah, dunia malah ngejar-ngejar el kayak anjing minta dipelihara. Gus Bara itu cermin retak buat kita semua. Pas kita lihat dia, kita enggak cuma lihat seorang ulama jenius. Kita sebenarnya lagi ditampar sama fakta bahwa selama ini kita hidup dalam penjara ekspektasi orang lain.
Sementara dia duduk santai menikmati kebebasan yang hakiki di teras rumahnya yang sederhana. Kita sibuk ingin terlihat hebat, dia sibuk menjadi hebat.
Dan bedanya kawan, bagaikan langit dan sumur bor. Pertanyaannya sekarang cuma satu buat lo yang baca tulisan ini.
Sanggup enggak lo punya mental sekuat itu? Sanggup enggak lo jadi orang yang sangat berkualitas sampai lo punya hak
untuk melanggar semua aturan main dunia atau lo cuma bakal terus jadi penonton yang diam-diam iri sama kebebasan dia?
Gue sampai tulis karakter beliau dan jadiin bahan baku dalam buku berjudul The Dangerous Saint, sebuah premis yang mungkin terdengar gila buat orang-orang sok polos. Bahwa syarat mutlak untuk menjadi orang suci yang sesungguhnya adalah lo harus punya kapasitas untuk menjadi berbahaya terlebih dahulu. Orang sering salah kaprah, Men!. Mereka pikir orang baik itu adalah orang yang enggak bisa nyakitin orang lain. Yang nerimo, yang pasrah diinjak-injak. Salah besar. Itu bukan orang baik, itu orang lemah.
Itu kelinci. Kelinci enggak memakan serigala bukan karena dia bermoral tinggi atau menahan diri, tapi murni karena dia enggak mampu. Dia enggak punya pilihan lain selain jadi korban.
Gus Baha itu beda. Dia singa. Coba lo bedah lagi.
Mau donasi lewat mana?
REK (7310986188)

Gabung dalam percakapan