4 Pilar Menjaga Diri dan Keberkahan Hidup
Sahabat SantriLampung yang beriman; Menjaga kerahasiaan dan privasi merupakan salah satu ikhtiar penting dalam meraih keberhasilan. Rasulullah ï·º bersabda:
"Mintalah bantuan atas hajat atau kebutuhanmu dengan menyembunyikannya, karena sesungguhnya setiap orang yang memiliki kenikmatan itu rawan didengki."
Sifat saling berbisik atau menjaga pembicaraan rahasia dalam hal kebaikan dapat menjadi benteng yang melindungi rencana dari prasangka buruk dan kedengkian sesama. Menyimpan rahasia usaha maupun rencana hidup merupakan jalan yang sangat berpotensi mendatangkan keberuntungan dan keberkahan. Selain menjaga rahasia niat dan rencana, Islam mengajarkan empat pilar utama untuk memelihara berbagai aspek kehidupan:
1. Sedekah Memelihara Harta
Harta yang disedekahkan tidak akan berkurang, melainkan justru terjaga dan bertambah keberkahannya. Diriwayatkan dari Abu Darda ra, Rasulullah ï·º bersabda bahwa setiap kali matahari terbenam, dua malaikat berdoa:
"Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang menginfakkan hartanya, dan berilah kehancuran kepada orang yang menahan hartanya."
Hal ini sejalan dengan firman Allah ï·» dalam Surah Al-Lail ayat 5–7:
"Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami akan mudahkan baginya jalan menuju kemudahan."
Ibnu Abbas ra. menjelaskan bahwa siapa saja yang mengeluarkan hartanya sesuai syariat, bertakwa, dan meyakini adanya balasan dari Allah, maka Allah akan menyiapkan jalan keluar yang penuh kenyamanan baginya.
2. Keikhlasan
Memelihara Amal Keikhlasan adalah benteng utama yang memelihara kualitas ibadah seseorang. Berdasarkan motivasi dan tujuannya, keikhlasan terbagi menjadi tiga tingkatan:
- Tingkatan Tertinggi: Beribadah semata-mata untuk menunaikan perintah Allah ï·» dan menetapi hakikat penghambaan, tanpa mengharapkan pujian, simpati, kedudukan, maupun harta dari manusia. Amal ini bahkan disembunyikan rapat-rapat dari penglihatan orang lain.
- Tingkatan Kedua: Beramal secara tulus karena Allah ï·» dengan harapan mendapatkan bagian di akhirat, seperti diselamatkan dari siksa neraka dan dimasukkan ke dalam surga.
- Tingkatan Ketiga: Beramal kepada Allah ï·» dengan harapan memperoleh keberkahan duniawi, seperti dilapangkan rezekinya atau dihindarkan dari musibah. Adapun beramal di luar kriteria di atas—seperti mencari perhatian dan pujian manusia—termasuk ke dalam sifat riya yang sangat tercela dan dapat merusak amal.
3. Kejujuran Memelihara Ucapan
Kejujuran adalah perhiasan lisan. Orang yang gemar berbohong tidak akan diterima perkataannya, baik di sisi Allah ï·» maupun di mata manusia. Mengenai firman Allah ï·»:
"Dan janganlah kamu campur adukkan kebenaran dengan kebatilan" (QS. Al-Baqarah: 42),
Ibnu Abbas ra. menafsirkannya sebagai larangan mencampuradukkan kebenaran dengan kebohongan. Para ahli hikmah menyatakan bahwa diam jauh lebih baik daripada mengucapkan kebohongan, sebab perkataan yang benar merupakan awal dari segala keberuntungan. Ahli balaghah juga menegaskan bahwa kejujuran membuat seseorang senantiasa dijaga dan disayangi, sedangkan kebohongan hanya akan mendatangkan kehinaan.
4. Musyawarah
Memelihara Keputusan dan Pendapat Musyawarah adalah jalan keselamatan dari tindakan sewenang-wenang dan kedzaliman. Rasulullah ï·º bersabda:
"Musyawarah dapat menjaga seseorang dari rasa menyesal dan mengamankannya dari celaan."
Sahabat Ali bin Abi Thalib ra. juga menegaskan pentingnya pertimbangan bersama dengan mengatakan:
"Sebaik-baik bentuk pertolongan adalah musyawarah, dan seburuk-buruk persiapan adalah sikap sewenang-wenang (diktator)."
Dengan menjaga kerahasiaan rencana, melanggengkan sedekah, memelihara keikhlasan, mengutamakan kejujuran, serta membiasakan musyawarah, seorang muslim tidak hanya memelihara hartanya di dunia, tetapi juga mengamankan pahala dan kedudukannya di akhirat.
Mau donasi lewat mana?
REK (7310986188)

Gabung dalam percakapan