Syarat mendapat Syafaat

Dalam kitab Durratun Nasihin dijelaskan, kelak pada hari kiamat seluruh manusia dikumpulkan dari zaman Nabi Adam hingga akhir zaman. Berada di tengah triliunan manusia, mari kita bayangkan sejenak. Saat dahulu antre vaksin atau antre bensin saja—yang paling hanya terdiri dari ratusan orang—kita sudah merasa kepanasan dan tidak sabar. Lantas, bagaimana rasanya antre di Padang Mahsyar kelak? Saat vaksinasi dahulu, pemerintah menyediakan banyak loket. Namun di akhirat nanti, hanya ada satu pengadilan untuk seluruh umat manusia. Dipanggillah kita satu per satu. Betapa lamanya kita harus menghadapi proses ini.

Dalam keadaan gelisah itu, ada sekelompok manusia yang saling mencari jalan keluar. Mereka gelisah karena ingin segera mengetahui nasib mereka: apakah akan masuk surga atau neraka. Pengadilan belum juga dimulai. Keadaannya mirip dengan seseorang yang ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi; tentu ia ingin cepat diadili agar ada kepastian. Jika bersalah, berapa hukumannya? Jika tidak bersalah, agar ia segera dibebaskan dari sangkaan.

Maka dalam kegelisahan itu, sekelompok manusia ini mendatangi Nabi Adam 'Alaihis Salam. Mereka berkata, "Wahai Adam, Engkau adalah bapak dari seluruh manusia dan kakek para nabi. Tolonglah menghadap kepada Allah, berdoa agar pengadilan segera dimulai."

Namun, Nabi Adam 'Alaihis Salam menjawab, "Maafkan aku, hari ini aku sangat malu menghadap kepada Allah. Sewaktu hidup di dunia, aku pernah sekali memakan buah khuldi. Di mana aku harus menyembunyikan mukaku karena rasa malu ini?"

Allahu Akbar! Nabi Adam 'Alaihis Salam yang hanya satu kali memakan makanan yang dilarang saja merasa sangat malu bertemu Allah di akhirat. Lantas, bagaimana dengan kita yang hampir tidak ada hari tanpa memakan uang/rezeki haram?

Lalu Nabi Adam menyarankan, "Cobalah kalian mendatangi Nabi Ibrahim, siapa tahu beliau mau berdoa."

Mendatangi mereka kepada Nabi Ibrahim 'Alaihis Salam dan berkata, "Wahai Ibrahim, Engkau adalah kakek para nabi dan juga Kholilurrahman, tolong menghadap kepada Allah agar pengadilan segera dibuka."

Nabi Ibrahim pun berkata, "Saya juga merasa sangat malu menghadap kepada Allah. Mengapa? Karena sewaktu hidup di dunia, saya pernah berbohong satu kali." Yaitu saat kaumnya bertanya siapa yang menghancurkan berhala-berhala mereka, Nabi Ibrahim menjawab bahwa patung yang paling besarlah yang melakukannya. "Saya merasa malu kepada Allah karena pernah berbohong walau hanya sekali. Di mana saya harus menyembunyikan muka saya?"

Allahu Akbar! Nabi Ibrahim yang hanya sekali berbohong seumur hidupnya merasa malu bertemu Allah di akhirat. Lalu bagaimana dengan para politisi atau kita yang tidak ada hari tanpa berbohong?

Selanjutnya, Nabi Ibrahim menyarankan mereka mendatangi Nabi Nuh 'Alaihis Salam. Mereka pun datang dan memohon hal yang sama. Namun Nabi Nuh menjawab, "Aku pun malu bertemu Allah hari ini. Kenapa? Aku diutus untuk menyampaikan kalimat laa ilaaha illallah, namun anak kandungku sendiri justru membangkang dan melawan ajaran itu. Aku malu menghadap Allah."

Nabi Nuh 'Alaihis Salam merasa malu hanya karena satu anaknya berkhianat. Bagaimana dengan kita yang keempat anaknya tidak ada yang beres? Bagaimana dengan kita yang memiliki lima anak perempuan tetapi tidak ada yang berjilbab, atau anak laki-laki yang tidak pernah salat berjemaah di masjid dan tidak tahu mengaji?

Nabi Nuh kemudian menyarankan mereka pergi kepada Nabi Isa 'Alaihis Salam. Ketika dimintai pertolongan, Nabi Isa berkata, "Saya sangat malu menghadap kepada Allah. Sewaktu di dunia, saya dipertuhankan dan disembah oleh manusia. Pergilah kalian kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, sang penghulu para nabi."

Maka datanglah kelompok manusia tersebut menghadap Nabi Muhammad ï·º Mereka berkata, "Wahai Muhammad, Engkau adalah kekasih Allah yang namanya selalu disandingkan dengan nama Allah, yang semesta alam diciptakan sebagai penghormatan kepadamu. Tolonglah kami, berdoalah kepada Allah agar pengadilan segera dibuka."

Di saat empat nabi senior sebelumnya merasa malu dan menolak, Rasulullah ï·º tersenyum dan berkata, "Tenanglah, di sinilah bagianku."

Rasulullah ï·º lalu bersujud dan menghadap Allah: "Ya Allah, kami sadar kami banyak melakukan maksiat dan dosa. Namun kami juga sadar Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Atas nama sifat Pengampun dan Penyayang-Mu, Ya Allah, kami mohon bukalah pengadilan-Mu."

Allah kemudian berfirman, "Wahai Muhammad, bangkitlah dari sujudmu! Hari ini Aku kabulkan doamu. Wahai Malaikat, siapkan segala sesuatunya, pengadilan kita mulai hari ini."

Ketika Nabi menceritakan hal ini, para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, luar biasa syafaatmu saat itu. Apakah semua kami sebagai umatmu otomatis mendapat syafaat tersebut?"

Nabi ï·º menjawab bahwa "Ada syaratnya". Sahabat bertanya, "Apakah gerangan syaratnya?"

Nabi menjawab, "Ada dua syarat utama."

[1]  Mendirikan Salat 

Jika kita ingin mendapat pertolongan dan syafaat Rasulullah ï·º kelak di akhirat, dirikanlah salat. Salat ini ibarat sebuah pemindai (barcode). Jika barcode-nya tidak aktif dan tidak terdeteksi, maka sistem tidak akan membacanya.

Coba perhatikan, perintah ibadah lain seperti haji, puasa, dan zakat cukup diturunkan melalui wahyu ayat Al-Qur'an. Namun khusus perintah salat, Allah tidak cukup hanya menurunkan ayat. Allah memanggil Nabi Muhammad ï·º secara langsung melalui peristiwa Isra' Mikraj untuk menerima perintah salat. Dari cara penerimaannya saja, salat sudah sangat spesial.

Selain itu, salat adalah puncak penghambaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Artinya, saat melaksanakan salat tidak boleh ada kegiatan lain. Ketika pergi haji, kita boleh sambil berdagang. Ketika berpuasa atau membayar zakat, kita masih boleh melakukan aktivitas lain. Namun ketika salat, setelah takbir dibuka, tidak boleh ada interaksi duniawi sama sekali.

Salat juga berfungsi mencegah perbuatan keji dan munkar (Innas shalata tanhaa 'anil fahsya-i wal munkar). Salat memproyeksikan akhlak kita agar terhindar dari maksiat. Rasulullah *Shallallahu 'Alaihi Wasallam* menjelaskan bahwa pembatas antara keislaman dan kekafiran seseorang adalah salat.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah Al-Fath ayat 29 yang mengisyaratkan bahwa tanda orang-orang beriman itu adalah rukka'an sujjada (mereka yang rukuk dan sujud). Maka, mayoritas ulama sepakat mengenai pentingnya menjaga salat ini.

[2]  Memperbanyak Salawat kepada Rasulullah ï·º

Syarat kedua untuk mendapatkan syafaat adalah banyak menyebut nama Nabi dan bersalawat kepada Nabi Muhammad ï·º.

Perhatikan keistimewaan salawat. Allah memerintahkan salat, tetapi Allah tidak salat. Allah memerintahkan puasa dan haji, tetapi Allah tidak berpuasa maupun berhaji. Namun, ketika Allah memerintahkan bersalawat, Allah berfirman:

"Innallaha wa malaikatahu yusalluna 'alan-nabi, ya ayyuhalladzina amanu sallu 'alaihi wa sallimu taslima."

(Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya).

Salawat juga menjadi pemicu dikabulkannya doa. Jika Allah melihat dosa dan maksiat yang kita lakukan, rasanya sulit doa kita langsung dikabulkan. Namun, ketika kita mendahului doa tersebut dengan mengagungkan kekasih-Nya ("Ya Nabi salam 'alaika, Ya Rasul salam 'alaika..."), Allah menghargai salawat tersebut dan mengabulkan permintaan kita karena cinta-Nya kepada Rasulullah ï·º.

Maka dari itu, jika ada doa-doa yang belum terkabul selama ini, bisa jadi penyebabnya adalah karena salat yang masih sering diremehkan atau kita yang masih malas bersalawat kepada Nabi Muhammad ï·º.

Semoga uraian ini bermanfaat. Lebih dan kurangnya mohon dimaafkan.

Barakallahu lii wa lakum wa li sa'iril muslimin, innahu huwal ghafurur rahim.


Baca Juga yang ini ya :
Pasang Iklan

Mau donasi lewat mana?

BSI a.n. Kholil Khoirul Muluk
REK (7310986188)
Bantu SantriLampung berkembang. Ayo dukung dengan donasi. Klik tombol merah.
Alumni Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung.

Suratku untuk Tuhan - Wahai Dzat yang kasih sayangnya tiada tanding, rahmatilah tamu-tamuku disini. Sebab ia telah memuliakan risalah agama-Mu. Selengkapnya

Donasi

BANK BSI 7310986188
an.Kholil Khoirul Muluk