Tempat Ujian dan Tempat Balasan

Sahabat SantriLampung yang dirahmati Allah; Cerita tentang orang zalim yang hidupnya penuh kemewahan sementara orang baik harus bersusah payah bukanlah kisah baru. Ini adalah pola lama yang sudah ada sejak manusia pertama diturunkan ke bumi.

Lihatlah bagaimana Abu Lahab, musuh yang tak henti-hentinya menzalimi Nabi Muhammad ﷺ, hidup bergelimang harta dan berselimutkan sutra. Sementara Rasulullah ﷺ yang teraniaya harus tidur di atas pelepah kurma hingga berbekas di punggungnya. Bahkan Sayyidah 'Aisyah r.a. pernah bercerita bahwa selama sebulan penuh rumah tangga Nabi hanya mengonsumsi kurma dan air putih karena tidak ada bahan makanan lain.

Pola ini berulang pada setiap zaman:

  • Fir'aun & Nabi Musa a.s.

    Fir'aun tinggal di istana megah dengan gelas dan piring berlapis emas, sementara Nabi Musa a.s. harus bertahan hidup di gurun pasir dan menggembala kambing milik Nabi Syu'aib a.s. selama 11 tahun.

  • Namrud & Nabi Ibrahim a.s.

    Namrud berkuasa dengan gelimang harta selama 400 tahun, sedangkan Nabi Ibrahim a.s. dianiaya hingga dilempar ke dalam kobaran api dan terpaksa berpindah-pindah tempat.

Allah SWT berfirman:

 فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ

"Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir."

Hakikat Dunia dan Kebijaksanaan Ilahi

Mengapa orang zalim tampak hidup nyaman, sementara orang baik harus mengalami kesulitan?

  1. Menyadarkan Kepemilikan Mutlak Allah

    Ketika orang jahil memimpin orang alim, hal itu menjadi pengingat bahwa kekuasaan dunia bukanlah tanda kemuliaan, melainkan kehendak Allah untuk menguji hamba-Nya ("Wallahu 'ala kulli syai'in qadir").

  2. Menjelaskan Hakikat Dunia

    Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa dunia ini nilainya tak lebih dari sebelah sayap nyamuk. Ulama menyatakan: "Man 'arafa ad-dunya hanat 'alaihi"—siapa yang memahami hakikat dunia, maka akan terasa ringan baginya segala cobaan hidup.

Akhir Tragis Bagi Orang Zalim

Kesenangan orang zalim di dunia hanyalah sementara. Allah SWT kadang memberikan "istidraj"—membiarkan mereka dalam kenikmatan, kesehatan, dan kelapangan rezeki—sebelum akhirnya menimpakan balasan tanpa ampun ("Innahullaha layumli liz-zhalim").

Sejarah mencatat bagaimana kesombongan mereka berakhir dengan hina:

Namrud tewas hanya karena seekor nyamuk masuk ke hidungnya dan menggigit otaknya, hingga ia terus membenturkan kepalanya ke dinding sampai tewas.

Fir'aun yang mengaku sebagai tuhan tewas mengenaskan karena tersedak air asin di dasar Laut Merah.

Meluruskan Cara Pandang (Taufik)

Sering kali, ketidakpuasan kita bersumber dari cara pandang yang keliru terhadap ketetapan Allah. Seperti anak kecil yang menganggap ayahnya baik saat diberi uang, namun menganggap ayahnya jahat saat dicubit—padahal kedua tindakan tersebut lahir dari kasih sayang yang sama.

Ketika cara pandang dan penerimaan kita selaras dengan kehendak Allah, itulah yang disebut "Taufik".

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Allah tidak pernah lalai terhadap perbuatan orang-orang yang zalim (Wa ma'allahu bighafilin 'amma ya'maluz-zhalimun). Setiap kebaikan dan kejahatan, sekecil zarrah pun, pasti ada perhitungannya. Semoga kita senantiasa diberikan kesabaran, kekuatan, serta kelapangan hati untuk selalu berprasangka baik (husnuzhan) atas seluruh takdir-Nya.



Baca Juga yang ini ya :
Pasang Iklan

Mau donasi lewat mana?

BSI a.n. Kholil Khoirul Muluk
REK (7310986188)
Bantu SantriLampung berkembang. Ayo dukung dengan donasi. Klik tombol merah.
Alumni Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung.

Suratku untuk Tuhan - Wahai Dzat yang kasih sayangnya tiada tanding, rahmatilah tamu-tamuku disini. Sebab ia telah memuliakan risalah agama-Mu. Selengkapnya

Donasi

BANK BSI 7310986188
an.Kholil Khoirul Muluk