Rakyat Indonesia pertama Masuk Syurga

Paradoks Sedekah Terbesar Bangsa  "Saat Keikhlasan Berubah Menjadi Ironi".

Ada sebuah amalan yang sangat agung. Saking utamanya, pahala amalan ini disebut-sebut sebagai sebaik-baik perbekalan menuju alam baka (akhirat). Bahkan, jika seorang ahli kubur diberi kesempatan satu kali saja untuk kembali ke dunia, niscaya ia akan memilih amalan ini.

Menariknya, amalan ini bisa dilakukan kapan saja. tidak perlu bersuci, tidak butuh wudu, dan fleksibel dilakukan oleh siapa saja bahkan bila dilakukan oleh orang bidoh sekali pun tetap sah. Amalan tersebut adalah sedekah.

Dan jika bicara soal kemurahan hati, harus diakui bahwa Rakyat Indonesia adalah juaranya.

Sedekah Skala Kolosal Menjamu Dunia dengan Kekayaan Alam

Secara yuridis dan filosofis, bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya adalah milik seluruh rakyat Indonesia. Namun, mari kita lihat betapa dermawannya bangsa ini dalam mengelola "aset bersama" tersebut.

Rakyat Indonesia dengan lapang dada membiarkan cadangan emasnya dikelola jauh hingga ke Amerika. Tanah-tanah yang membentang luas pun dengan ramah dipinjamkan atau diserahkan pengelolaannya kepada investor asing, mulai dari Tiongkok hingga negara-negara besar lainnya. Batubara, nikel, lithium, hingga minyak bumi—segala isi perut bumi Nusantara—seolah terus mengalir ke luar, sering kali tanpa menyisakan manfaat sepadan untuk pemilik sahnya (Rakyat).

Yang paling ajaib bukan hanya kekayaan alamnya, melainkan ketabahan rakyatnya.

Rakyat miskin yang tidak punya modal kapital tetap ikut berkontribusi "bersedekah" menggunakan otot dan keterampilan mereka. Keterampilan yang sebenarnya bernilai tinggi jika dihargai di luar negeri, sering kali diserahkan di dalam negeri dengan apresiasi seadanya. Rakyat kecil tetap tersenyum, bahagia melihat orang lain sejahtera, meski kondisi mereka sendiri jauh dari kata cukup.

Ajaibnya lagi dalam kondisi yang sedemikian, rakyat masih tidak tinggal kewajibannya berzakat, berbagi kepada sesama, berkurban dan lain sebagainya. Sehingga wajar jika Rakyat Indonesia akan menjadi kelompok pertama yang masuk syurga. Amiin ya robbal alamiin.

Bahkan konon, malaikat pun mungkin geleng-geleng kepala melihat fenomena ini. Bagaimana tidak? Rakyat sendiri banyak yang masih kesulitan memiliki rumah dan harus rela mengontrak di negeri sendiri, sementara lahan-lahan strategis dan kawasan hunian mewah berdiri megah untuk memanjakan para tamu dari jauh. Sebuah wujud "memuliakan tamu" yang kelewat batas.

Uang Keringat untuk "Tamu Berdasi"

Kedermawanan ini tidak berhenti di sektor sumber daya alam. Tiap bulan, dari rupiah demi rupiah hasil keringat sendiri, rakyat taat menyisihkan uang untuk bayar pajak—yang kerap kali dipakai untuk menjamin gaya hidup elite politisi dan pejabat berdasi. Tabungan yang tersisa sedikit demi sedikit di bank pun ikut membiayai operasional lembaga keuangan.

Sungguh, loyalitas dan kesabaran rakyat Indonesia ini seolah-olah sudah memesan satu tempat khusus di surga.

Dari loyalitas rakyat Indonesia dalam bersedekah inilah yang membuat Syurga sangat merindukannya.

Tapi Tunggu Dulu… Ada Kabar Lain!

Jangan keburu berbangga hati. Di balik narasi "kemuliaan" tersebut, ada sisi gelap yang tak kalah menyentil.

Usut punya usut, ternyata pintu tempat lain (Neraka) pun kabarnya ikut bersiap menyambut merindukan rakyat Indonesia. Di tengah kepasrahan dan Kedermawanan sosial yang keliru arah itu, moralitas sebagian masyarakat justru mengalami pergeseran. Fenomena melanggar norma sosial dan agama—mulai dari maraknya kebebasan moral hingga mengumbar perbuatan yang tidak pada tempatnya—makin marak dan dianggap lumrah.

Fenomena pelanggaran seperti ; Laki-laki dan Perempuan mengobral kemaluannya.

Catatan Penutup

Cetus narasi di atas sebenarnya menyadur gaya "guyonan khas para kyai dan mubalig pesanten"—sebuah cara bertutur yang membungkus otokritik tajam dengan balutan humor satir.

Humor ini mengingatkan kita akan sebuah pesan mendalam: "Ikhlas dan sabar itu mulia, tetapi bersikap apatis terhadap hak sendiri dan membiarkan ketidakadilan terus berlangsung bukanlah bagian dari ibadah." Sedekah terbaik adalah sedekah yang ditempatkan pada porsi dan aturannya, bukan keikhlasan yang dimanfaatkan untuk memperkaya pihak lain sementara diri sendiri terabaikan.


Baca Juga yang ini ya :
Pasang Iklan

Mau donasi lewat mana?

BSI a.n. Kholil Khoirul Muluk
REK (7310986188)
Bantu SantriLampung berkembang. Ayo dukung dengan donasi. Klik tombol merah.
Alumni Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung.

Suratku untuk Tuhan - Wahai Dzat yang kasih sayangnya tiada tanding, rahmatilah tamu-tamuku disini. Sebab ia telah memuliakan risalah agama-Mu. Selengkapnya

Donasi

BANK BSI 7310986188
an.Kholil Khoirul Muluk